Array

Rihlah Buku, Rihlah Kebahagiaan

Artikel Populer

Muhammad Farhan al Fadlil
Muhammad Farhan al Fadlil
Mahasiswa Universitas Al-Azhar Mesir | Tim penulis numesir.net | penikmat kopi dan buku

Siang itu Kairo seperti biasanya, terik dan panas, tapi tetap menyenangkan. Setelah sejaman duduk di warung kopi, saya dan teman saya bangkit untuk pergi menuju toko-toko buku di daerah Dontown.

Layaknya pemuda-pemuda yang bergairah dengan dunia pemikiran, satu hal yang tidak bisa kami tinggalkan ketika duduk dan nyangkruk di warung kopi, adalah ngobrolin buku. Hal itu seolah menjadi penawar di tengah kegabutan dunia yang tiada henti menyerukan banyak kebutuhan dan kepentingan. Ngomongin hidup dan masa depan itu memang penting. Tapi kalau berputar di itu-itu saja, betapa sempitnya anugerah hidup yang diberikan oleh Tuhan, jika faktanya yang kita prioritaskan hanya sekadar materialisme semata. Tidak, kita ini makhluk yang luas. Ada urusan materi yang butuh kita cukupi dan usahakan, tapi secukupnya saja. Istilah jawanya: ngono yo ngono, tapi ojok koyok ngono!

Lha, yang paling bisa merepresentasikan alam pikiran itu, salah satunya, ya buku. Jadi barangsiapa yang tidak update tentang buku, niscaya dia akan ketinggalan dalam wacana keilmuan. Dan barang siapa yang ketinggalan dengan wacana keilmuan, sungguh dia telah membatasi kehidupan yang begitu luas ini dan tak jarang demikian itu membuat dirinya terkungkung pada satu tafsir yang tak jarang kaku dan beku. Aduh, betapa menakutkannya dunia yang semacam itu. Bahkan kalau kita lihat sejarah, dari dulu hingga kini, kita saksikan betapa para ulama itu adalah manusia-manusia yang dinamis: terus belajar dan bertafakkur, sehingga tiada henti mereka menjadi sumber-sumber inspiratif melalui karya-karyanya yang terus dibaca hingga kini.

Lha kok jadi sok filosifis begini. Baik, mari kembali ke tema awal tadi: rihlah buku!

Ada tiga maktabah yang ingin kita kunjungi di Dontown, yaitu maktabah Haiah Ammah Misriyah, Dar al Maarif dan Maktabah Wahbah.

Selain di Dontown, sebenarnya toko-toko buku di daerah Darrasah tidak kalah banyak dan beragam. Di belakang Al Azhar, kita melihat begitu banyak maktabah berjejeran. Namun secara umum, buku-buku yang dijual adalah buku-buku turats yang memang sesuai dengan kebutuhan para pelajar di Al Azhar.

Tidak bisa dipungkiri, Mesir bisa terbilang sebagai salah satu surganya buku, apalagi yang bertemakan kajian-kajian keislaman, dari yang turats (klasik) sampai muasirah (kontemporer) semuanya. Bahkan dari yang Wahabi, Muktazilah, Syiah dan Sunni, semuanya ada. Terlepas dari situasi sosio-politik yang sedang “begini”, tapi soal buku, intelektualitas, dn wacana pemikiran Islam, Mesir tetap menjadi salah satu mercusuar dunia Islam. Tak jarang wacana-wacana pemikiran yang berkembang di dunia Islam itu asal mulanya disuarakan dari Mesir. Kita ambil contoh Muhammad Abduh misalnya yang mana suaranya reformoasi pemikiran Islam begitu terngiang-ngiang sejak satu abad yang lalu hingga kini. Kemudian disusul oleh Syekh Mustafa Abdurraziq, Syekh Mahmud Syaltut, Abbas Aqad, Taha Husain, terus disusul pula oleh para pemikir Islam kiri seperti Hasan Hanafi, Nasr Hamid Abu Zaid, Asymawi dan lainnya.

Ada banyak sekali toko buku di Dontown, dan kenapa kita pilih toko-toko tadi, karena nama-nama tadilah yang harga-harga bukunya agak cocok dengan kantong mahasiswa seperti kami ini. Yang pertama adalah Maktabah Haiah Ammah. Setengah jaman kami muter-muter di sana. Dengan samgat khusyuk, kami amati satu persatu buku yang ada. Gayanya sudah meyakinkan, beberapa buku dipegang, dicek daftar isinya, dan sesekali ditafakuri isinya. Lalu diletakkan lagi, pindah ke buku lain dan seterusnya. Ujungnya, dicari judul yang paling menarik dengan harga yang paling murah, gitu pun masih minta diskon. Asem… Dasar mahasiswa jan….!!! Hahaha

Ringkasnya, jarang yang baru di sana. Kebanyakan masih stok lama, bahkan sejak saya masih MABA dulu. Tapi bagi yang minat kajian sastra dan kritik sastra arab, Haiah Ammah adalah salah satu pilihan yang tepat.

Setelah itu kami berpindah ke Dar al-Ma’arif. Setelah membuka pintu masuk, suasana terkesan lebih menyenangkan. Pilihannya lebih banyak dan temanya pun lebih beragam. Tapi terlihat toko buku ini menonjolkan beberapa tokoh dengan sajian karyanya yang lengkap. Seperti buku-buku Taha Husain, Abbas Aqad, Syekh Abdul Halim Mahmud, Bintu Syati yang terpajang karya-karya mereka secara lengkap dan komprehensif.

Kebanyakan buku yang dijual adalah karya para pemikir akhir abad lalu. Terlihat juga beberapa buku turats dengan kemasan menarik. Mengenai isu-isu pemikiran yang baru, adalah buku-buku terbitan Mukminun bila Hudud. Selain itu, tema yang diangkat masih seputar kajian post-kolonial, seperti Islam dan Akal, Islam dan Modernitas, atau tema-tema tentang Radikalisme juga tak kalah mendominasi.

Ada yang bilang, kalau dunia pemikiran Islam, khusunya di Arab, akhir-akhir ini agak surut, terkhusu pasca kejajian Arab Spring yang membuat banyak orang makin cemas dan ketakutan perihal kekerasan. Dan hal ini membuat banyak ulama dan cendikiawan serius menuliskan tema berkaitan radikalisme.

Melihat fenomena demikian ini, tak sedikit orang berkata sinis. Katanya, buku-buku yang di jual di Mesir kebanyakan berupa turats, dan itu, adalah tanda kejumudan dan sangat mengkhawatirkan.

Tapi bagi saya, itu tidak tepat dan cukup berlebihan. Memang benar, dalam dunia akademik, hal-hal yang bersifat baru begitu dimuliakan. Tapi bukan berarti ‘masa lalu’ harus dijauhi dan ditinggalkan. Bahkan dalam banyak hal, kehidupan keberagamaan kita saat ini tak bisa (dan tak mungkin) dilepaskan dari keberkahan masa lalu. Maka sudah sepatutnya kita perlu seimbang dan mawas diri. Juga tahu diri!

Jam demi jam berlalu. Langit kian memerah, pertanda siang berganti sore hari. Kami mengurungkan niat untuk ke maktabah selanjutnya, dan lebih pilih mampir ke warung kopi. Hati senang membawa buku baru. Kami memesan kopi faronsawi, dan membakar rokok. Perjalanan berhenti, dan pembacaan dimulai kembali. Ah, indahnya dunia ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Cerita dari Palestina : Berbaik Sangka kepada Imigrasi Paling Ketat, Allenby Border

Kopiah.Co — Berbaik sangka dalam menjalani apapun ternyata dapat menjadi perjalanan hidup kita menjadi ringan, termasuk saat singgah ke...

Artikel Terkait