Pancasila di Tanah Tunisia

Artikel Populer

Ahmad Hashif Ulwan
Ahmad Hashif Ulwan
Mahasiswa Universitas Az-Zaitunah

Kopiah.co – Pancasila sebagai falsafah bernegara rakyat Indonesia memiliki kesan tersendiri di mata rakyat Tunisia, pasalnya, persahabatan erat yang telah dibangun oleh Soekarno dan Habib Bourgaiba harus kita lanjutkan dengan gotong-royong antar kedua bangsa, sehingga Tunisa dan Indonesia bisa bekerja bersama untuk menciptakan dunia yang damai, dengan jargon “Indonesia Tunisia Sahabat” kedua negara berkomitmen melanjutkan persahabatannya untuk sama-sama berkembang dan berperan aktif dalam pembangunan dunia.

Dalam rangka memperingati hari lahirnya pancasila 1 Juni 2022, KBRI Tunis mengadakan seminar di Wisma Duta RI Tunisia, membincangkan sejarah panjang Pancasila dan bagaimana rakyat Indonesia menerapkannya salam setiap sendi kehidupan, juga membincangkan histori kemerdekaan Tunisia yang sarat akan andil Indonesia di tangan Soekarno kala itu.

Dalam seminar yang dihadiri 32 wartawan dan jurnalis lokal Tunisia ini, KBRI Tunis mengusung tema “Pancasila Indonesia, Gotong-royong untuk Membangun Masa Depan Indonesia yang Cemerlang dan Perdamaian Dunia”. ini merupakan salah satu agenda pengenalan Pancasila kepada dunia sebagai falsafah bernegara rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

Dalam sambutannya, Duta Besar Indonesia untuk Tunisia, Zuhairi Misrawi, menjelaskan dengan gamblang setiap sila yang terkandung dalam Pancasila. Falsafah bangsa ini merupakan sebuah perekat persatuan bangsa Indonesia yang  memiliki beragam agama, beragam suku, beragam bahasa, dan beragam adat istiadat, juga menyatukan jarak antara rayat Indonesia yang terbentang jauh dari pojok Sumatra sampai ujung Papua, seluruh kemajemukan ini dipersatukan dalam satu landasan dan pondasi yang sangat kokoh, yaitu Pancasila. Selain itu, pondasi inilah yang mengarahkan rakyat Indonesia untuk membangun bangsanya dalam berbagai dimensi.

Asas ini menggerakkan Indonesia untuk menjalin hubungan baik dengan negara lain, khususnya Tunisia. Lewat sambutannya di depan para akademisi, politisi, wartawan dan jurnalis, Zuhairi Misrawi menyampaikan komitmennya untuk meningkatkan hubungan bilateral antara kedua bangsa, khususnya di bidang ekonomi, pendidikan dan pertahanan. Pemikiran ini tidak lain dan tidak bukan adalah implementasi dari Pancasila yang menjadi pondasi dan arah laju politik luar negri Indonesia.

Ahmed Ounais, mantan Mentri Luar Negeri Tunisia, yang juga hadir sebagai panelis pada kesempatan kali ini menyampaikan hubungan kedua negara pada masa belia kedua negara ini berdiri, sejarah yang sangat ikonik dan menjadi kenangan manis bagi kedua negara yang terpisah amat jauh secara geografis. Ounais membeberkan betapa bangsa Indonesia sangat berjasa bagi kemerdekaan Tunisia, mulai dari pembentukan kantor kemerdekaan Tunisia di Kairo pada tahun 1946, kunjungan presiden pertama Tunisia, Habib Bourgaiba ke Indonesia pada ‘51, hingga pendirian kantor perjuangan rakyat Tunisia pada tahun ‘52 di Jalan Cik Ditiro No. 56 Jakarta Pusat, diantara tokoh perjuangan Tunisia yang berkunjung ke Jakarta kala itu adalah Taieb Slim dan Tahar Amira, sampailah pada akhirnya rakyat Tunisia mendapatkan kemerdekaannya pada 20 Maret 1956.

Faisal Ghouya, seorang politisi Tunisia yang juga pernah menjadi Duta Besar Tunisia untuk Indonesia dalam pidatonya malam itu menceritakan beragam pengalaman menariknya selama berada di Indonesia, yang menjadi sorotannya adalah sistem pemerintahan Indonesia yang begitu sistematis, “dengan adanya menteri-menteri koordinator dan majelis-majelis di Indonesia, memungkinkan Presiden Republik Indonesia menjalankan tugasnya memimpin negara dengan jumlah penduduk mencapai 270 juta jiwa ini”. Mantan Duta Besar Tunisia untuk Amerika ini juga berpendapat bahwa “Komposisi pemerintahan yang dihadirkan oleh Pemerintah Indonesia mungkin cocok diterapkan oleh Tunisia maupun negara lain.” Semua ini tidak lain dan tidak bukan, adalah karena komitmen kuat bangsa Indonesia dalam menjalankan nilai-nilai luhur yang tertuang dalam Pancasila.

Selanjutnya, kebebasan yang diakomodir dalam sila pertama Pancasila membuahkan pluralisme dalam ekspresi kebebasan beragama dalam negara Indonesia, walhasil, setiap penganut agama memiliki kebebasan beragama di Indonesia. Selain membicarakan soal keberagaman agama yang ada di Indonesia sebagai pengejawatahan dari Pancasila, Dr. Moncef bin Abdul Jalil, dosen Humaniora Universitas Sousse, yang juga hadir sebagai panelis pada seminar tersebut menjelaskan pula bagaimana demokrasi di Indonesia bisa terwujud dengan sangat amat damai, beliau menyebutkan bahwasanya “kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat, yang tertuang dalam sila ke-empat dari pancasila Indonesia ini berperan besar dalam demokratisasi yang terjadi di Indonesia, pasalnya, semua kepala rakyat, seluruh partai, dan segenap kelompok yang ada di Indonesia dalam proses demokrasinya mengedepankan hikmah, atau kebaikan dan nilai luhur yang paripurna.

Walhasil, seminar yang dilaksanakan di pelataran kediaman Duta Besar RI untuk Tunisia ini menghasilkan insight baru bagi rakyat Tunisia yang hadir pada malam peringatan lahirnya Pancasila tersebut, juga menjadi bahan renungan bagi bangsa Indonesia untuk terus bekerja membangun negeri yang cemerlang dan menciptakan kedamaian bagi semesta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Asa Nahdlatul Ulama Merawat Jagat

Menyongsong abad kedua, Nahdlatul Ulama semakin melipatgandakan amal untuk mewarnai dunia. Siapapun akan menggelengkan kepala ketika mengamati langkah ambisius...

Artikel Terkait