Buku dan Harapan-harapannya

Artikel Populer

Muhammad Farhan al Fadlil
Muhammad Farhan al Fadlil
Mahasiswa Universitas Al-Azhar Mesir | Tim penulis numesir.net | penikmat kopi dan buku

Ujian Azhar rampung sudah. Momen yang ditunggu-tunggu itu waktunya tiba juga: Cairo International Book Fair (kami biasanya menyebutnya “ma’rad”). Acara pameran ini digelar tiap tahun di Mesir dan untuk tahun ini di mulai pada 24 Januari- 6 Februari.

Book Fair yang bergengsi ini dibentuk pertama kali pada tahun 1969 sebagai peringatan atas 1000 tahun berdirinya kota Kairo.

Hal itu bermula saat seorang seniman Abdel Salam al-Syarif mengusulkan kepada Tarwat Okasha, Menteri Kebudayaan kala itu, agar dibentuk sebuah pameran buku seperti yang diadakan tahunan di Leibzig, Jerman, tapi dengan model khas Islam dan Arab.

Tharwat Okasha pun menerima usulan tersebut dan akhirnya memasrahkan kepada seorang aktifis perempuan dan pemikir terkemuka Suhail Qalamawi sebagai ketua tim acara pameran tersebut. Akhirnya, pameran buku waktu itu sukses besar dengan dihadiri partisipan 46 penerbit sebagai perwakilan 32 negara, mulai dari Eropa, Amerika, Asia dan Arab.

Rupanya, pameran buku tidak sekedar berisi sekumpulan toko buku dan penerbitan yang cuma mengurus perkara penjualan buku saja. Dalam sejarah, kita melihat bagaimana buku memerankan fungsi dialektika dan perlawanan. Seperti terlihat, misalnya, pameran buku pada 31 Januari 1981 yang menjadi saksi perlawanan masyarakat Mesir terhadap Israel.

Saat itu, tidak diduga-duga ternyata duta besar Israel datang ke acara pameran buku dan hal itu pun memprovokasi para pengunjung untuk beramai-ramai menurunukan bendera Israel. Lalu dengan paksa alun-alun pameran diubah menjadi tempat perang media massa melawan Israel. Kemudian ditambah pernyataan dari partai buruh dan partai liberal yang menyerukan agar bendera Palestina segera dikibarkan di berbagai bioskop Mesir.

Selain itu, terdapat peristiwa sejarah yang juga berkaitan pameran buku di Mesir. Tepatnya, pada puncak eskalasi terorisme di Mesir, Dr. Samir Sarhan yang menjadi pimpinan redaksi Haiah Mishriyah ‘Ammah lil Kitab kala itu mengumumkan adanya debat di pameran buku dengan tema “Mesir Antara Negara Agama dan Sipil”. Dalam perdebatan itu diwakili dua golongan. Dari kelompok Islam diwakili Syekh Muhammad Ghazali, Dr. Imarah dan pemimpin Ikhawul Muslimin, Makmun al Hudaibi. Lalu dari kelompok kiri diwakili Farog Fouda dan M. Khalafalloh. Peristiwa ini memberikan rekam jejak kelam karena berujung dengan terbunuhnya Farag Faoda oleh seorang ekstrkmis setelah mendapat hasutan dari kelompok ekstrimis yang menghukumi Fouda sebagai seorang yang “murtad”.

Terlepas dari kejadian sejarah di atas, bagi saya, juga mahasiswa al-Azhar pada umumnya, ma’rad atau pameran buku yang ada di Mesir ini begitu memgemberikan. Bagaimana tidak, segala macam buku dari yang Islami hingga non-Islami, literatur arab sampai literatur barat dan Yunani yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab bisa ditemui dengan mudah. Ibarat kata, sola literasi, Mesir adalah mercusuarnya bangsa Islam-Arab. Tidak hanya buku-buku klasik yang dicetak dengan model tahqiqan yang bagu sekali, buku-buku tentang wacana pemikiran Islam kontemporer dari berbagai negara Timur-Tengah bisa didapatkan dengan mudah di sini. Mulai dari karya-karya pemikir Maroko, begitu juga Tunisia, Suriah, Iraq, Iran, Arab Saudi, semuanya lengkap di makrod. Jadi, untuk melacak pemikiran dari sejarah klasik sampai wacana modern yang seaneh apapun ada di sini. Bukankah keadaan yang seperti ini yang diinginkan oleh penikmat kajian keislaman?

Tapi ada yang sinis, yaitu anggapan sebagian orang bahwa saat ini dunia timur tengah tidak bisa mempunyai keistimewaan sama sekali dalam dunia modern. Argumennya itu-itu saja: maraknya kemiskinan dan kekacauan yang ada dunia timur tengah.

Hemat saya, pola pikir semacam ini adalah salah karena berangkat dari generalisasi yang buta. Memang benar, bahwa dunia ide mestinya berjalan selaras dengan realitas. Tapi soal apakah suatu ilmu pengetahuan harus mendapatkan validasi dari realitas, itu tidak sepenuhnya benar.

Mengenai apa yang terjadi dengan kekacauan di timur tengah, itu seringkali berangkat dari konflik internal politik semata. Dan mestinya hal itu tidak menegasikan eksistensi alam pikiran yang ada.

Raasanya setiap bangsa memiliki proses jalannya sendiri. Seperti di Indonesia, kita pernah berada pada masa kelam orde baru yang gagal menjalankan demokrasi selama beberapa dekade yang akhirnya sampai pada puncaknya terjadi krisis moneter tahun 1998. Baru setelah itu kita sebagai bangsa belajar lebih dewasa dan bersyukur kini sampai lada keadaan ekonomi dan sosio-politik yang lebih baik dibanding sebelumnya. Begitu juga Cina yang kini melejit menguasi dan memimpin ekononomi dunia, itu tidak berarti apa-apa tanpa adanya reformasi ekonomi Tiongkok yang digagas oleh Deng Xiaoping pada tahun 1978. Sebelum masa itu, Cina biasa saja: miskin dan kumuh.

Begitu juga di Barat, andaikan tidak ada abad kegelapan, mungkin filsafat rasionalisme Descartes tak mampu menjadi inspirasi reformasi filsafat modern.

Begitu juga kini. Kita umat Islam sakit karena melihat anak-anak dan masyarakat Palestina dibantai oleh Zionis Israel, dan ternyata kita sebagai umat Islam hanya bisa terdiam, tak berdaya, kebingungan di hadapan realitas yang memilukan itu.

Begitu juga di Mesir yang saat ini berada pada situasi perekonomian yang sulit karena dampak inflasi yang tembus sampai angka 40%. Nominal 1 juta rupiah bisa menjadi 3-4 kali lipat jika ditukar ke mata uang Mesir. Semua bahan pokok naik. Warga kesusahan. Tapi bagaimana pun juga, realitas dunia yang diliputi berbagai krisis ini jangan sampai menghalangi kita untuk tetap bepikir dan merengkuh ilmu pengetahuan. Kehidupan masih terus berjalan, harapan yang terang di masa depan masih layak diperjuangkan. Dan kita, masih berkesempatan membaca buku dan menikmati ilmu pengetahuan. Dan saya setuju dengan jargon yang diangkat dalam acara Cairo International Boom Fair 2024 ini: Nashna’u al-Ma’rifah Nashūnu al-Kalimah! (Kami memproduksi ilmu pengetahuan, kami menjagi kata-kata).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Gelar Kunjungan ke Toko Buku, Kopiah.Co Dorong Mahasiswa Bangun Budaya Baca

KOPIAH.Co — Pusat Studi Islam dan Sukarno, KOPIAH.Co bersama Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Tunisia menggelar 'Maktaba Tour' dengan melakukan...

Artikel Terkait