Disintegrasi Ilmu Sains dan Agama

Artikel Populer

Oleh: Muhammad Daffa Zuhdi

Dewasa ini, tolak ukur sebuah ilmu sains berkembang secara progresif atau tidak dalam sebuah negara, itu dapat dilihat dari seberapa banyak prestasi yang diperoleh pada ajang peraihan nobel. Nobel adalah ajang penghargaan untuk para ilmuwan (saintis) yang memberikan sumbangsih besar kepada umat manusia dan dunia. Mirisnya sebagian besar pemenang nobel kategori sains adalah ilmuwan non-Islam, sementara ilmuwan Islam hanya sedikit yang meraih nobel tersebut. Di antara mereka adalah Abdus Salam (peraih nobel bidang fisika), Ahmed Zewali (peraih nobel bidang kimia), Aziz Sanca (peraih nobel bidang kimia).

Pentas sejarah mempertunjukan bahwa umat Islam pernah mengalami masa keemasannya, yakni pada zaman Abasiyah, tepatnya pada abad ke-8 sampai abad ke-9. Peradaban umat Islam pada masa ini berkembang pesat dan menjadi role model dunia, sebab masyarakatnya memberi perhatian yang sangat besar dari sisi ilmu agama dan ilmu sains. Sejarah juga mencatat, di era Abasiyah pada masa pemerintahan Harun al-Rosyid, telah didirikan Baytul Hikmah (gedung ilmu pengetahuan) sebagai institusi penelitian ilmuwan Islam. Sehingga, cabang-cabang ilmu sains seperti matematika, fisika, astronomi turut mengalami perkembangan yang sangat pesat.

Perkembangan pesat ilmu agama dan sains juga terjadi pada masa Khalifah al-Ma’mun. Di era Khalifah al-Ma’mun umat Islam mulai melakukan penerjemahan literatur bahasa asing ke bahasa arab, salah satu penerjemah terkenal di era khalifah ini adalah Abdullah Ibn Muqoffa. Kitab-kitab yang diterjemahkan dan dikodifikasikan di antaranya adalah ilmu Mantik (logika) dan Makulat. Akibatnya, ilmu agama dan sains sangat termanifestasi pada era gemilang umat Islam di zaman Abasiyah. Hal ini dibuktikan lahirnya para ilmuwan Islam yang ahli di bidang agama dan sains. Di antaranya, Pertama, Ibnu Sina ahli di bidang filsafat, kedokteran, astronomi, mempunyai karya The Cano Of Medicine dan The Book of Healing. 

Kedua, Al-Biruni ahli di bidang geografi, etnografi, fisika, matematika, filsafat. Beliau juga mencetuskan teori trigonometri. Ketiga, Ibn al-Haistam ahli di bidang matematika, fisika, astronomi. Beliau juga dikenal sebagai bapak ilmu optik modern, tersebab beliau menemukan cikal bakal optik pertama di dunia. Keempat, al-Khawarizmi ahli di bidang matematika, astronomi, geografi. Beliau merupakan penemu teori al-Jabar dan juga kepala balai pengetahuan baytul hikmah di zaman khalifah al-Ma’mun.

Keberhasilan integrasi antara ilmu agama dan sains pada dinasti Abasiyah pun tidak terlepas dari beberapa faktor-faktor pendukung. Menurut sejarawan ada tiga faktor untuk mencapai kegemilangan dinasti Abasiyah. Faktor pertama adalah faktor asimilasi, terjadinya asimilasi di kalangan bangsa Arab dengan bangsa non-Arab yang menjadikan dinasti Abasiyah unggul dalam ilmu pengetahuan. Sehingga, hal ini menyebabkan keefektifan proses terjadinya integrasi ilmu agama dan sains.

Faktor kedua adalah faktor gerakan penerjemahan literatur bahasa asing. Kegiatan gerakan penerjemahan ini dikelompokan menjadi tiga periode. Pertama, pada masa khalifah al-Mansur sampai khalifah Harun al-Rosyid, pada periode ini banyak diterjemahkan karya-karya dalam diskursus Astronomi dan Mantik. Kedua, pada masa khalifah al-Ma’mun karya yang diterjemahkan pada masa ini adalah diskursus Filsafat dan Kedokteran.

Faktor ketiga adalah faktor keterbukaan dan peran aktif kesadaran dari para khalifah. Misalnya khalifah al-Mansur, Harun al-Rosyid dan al-Ma’mun yang sangat terbuka, tidak konservatif dan sangat memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan ilmu-ilmu pengetahuan di zamannya. Dari ketiga faktor ini, kita bisa tarik kesimpulan bahwa kesadaran dan sinergisitas dari berbagai elemen mulai dari khalifah, ilmuwan, serta masyarakat sangat berpengaruh terhadap kemajuan ilmu sains dan agama.

Sayangnya, prestasi gemilang umat Islam di zaman Abasiyah tidak bisa berlanjut pada generasi Islam selanjutnya. Misalnya, dari segi ilmu pengetahuan yang mengalami penurunan. Hal ini terjadi  karena adanya dikotomi ilmu dari kubu umat Islam itu sendiri. Dikotomi yang dimaksud disini adalah pembagian dua kelompok ilmu pengetahuan yang secara lahiriyah seolah-olah kelihatan bertentangan—sebagian mengklaim ilmu agama berasal dari Islam—sedangkan ilmu sains berasal dari barat.

Kondisi dikotomi ilmu sains dan agama tersebut berawal dari keyakinan masyarakat, bahwa agama dan ilmu adalah suatu entitas yang berbeda, keduanya mempunyai batasan wilayah yang terpisah antara satu dan lainnya. Agama sering diasumsikan suatu apriori atau keyakinan, sedangkan sains sering diasumsikan sebuah eksperimen. Selain itu, munculnya dikotomi ilmu sains dan agama dipengaruhi oleh tiga faktor. Pertama, perkembangan ilmu itu sendiri. Hal ini akhirnya membentuk cabang disiplin ilmu yang menyebabkan epistemologi masing-masing ilmu itu menjadi masif dan berbeda.

Kedua, kemunduran Islam sejak abad pertengahan (1250-1800 M). Pada fase ini pendidikan fukaha sangat mendominasi, sehingga umat Islam berasumsi bahwa ilmu agama hukumnya fardhu ain (kewajiban individu), sementara ilmu sains fardhu kiifayah (kewajiban kolektif). Akibatnya mayoritas umat Islam saat ini tertinggal jauh dalam hal kemajuan sains. Ketiga, institusi pendidikan Islam yang belum mampu melakukan pembenahan dan pembaharuan kurikulum. Sehingga, lembaga pendidikan Islam tidak mendukung integrasi sains dan agama.

Dari beberapa faktor di atas kita tidak bisa serta merta menjustifikasi ilmu agama dan sains bertentangan. Faktanya, kedua ilmu tesebut memiliki hubungan dan entitas sama yang akan berimplikasi terhadap kemajuan suatu peradaban dikarenakan keduanya merupakan sumber atau wadah kebenaran (objektifitas) pengetahuan. Tak hanya itu, ilmu sains yang dibekali ilmu agama akan melahirkan ilmuwan yang genius, beradab dan religius, sebaliknya jika ilmuwan tidak dibekali ilmu agama akan melahirkan ilmuwan yang tidak beradab

Walakhir, Islam adalah agama sempurna yang mencakup seluruh aspek kehidupan umat manusia, sehingga pendidikan agama Islam meliputi semua bidang keilmuan tanpa membedakan antara ilmu dunia dan ilmu akhirat atau ilmu umum dan ilmu agama. Hal ini selaras dengan perkataan Prof. Mahmud Hamdi Zaqzuq di dalam bukunya al-Fikr ad-Dini wa al-Qadhaya al-‘Asr, “Sebuah Ilmu itu tidak memiliki identitas kebangsaan dan keagamaan”. Dengan ini perkembangan ilmu pengetahuan bukan sebuah hal yang bertentangan melainkan saling melengkapi dan saling mendukung satu sama lain.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Muslim Progresif : Paradigma Berpikir Omid Safi Tentang Keadilan, Gender dan Pluralisme

Oleh : Muhammad Sheva Maulaya Zuhdi, Mahasiswa Indonesia di Universitas Zaitunah Kairouan Tunisia Kopiah.Co — Di era modern yang semakin...

Artikel Terkait