Ambisi Putin Merengkuh Mitos Sejarah

Artikel Populer

Beragam sanksi dan ancaman bertubi-tubi datang kepada Rusia, namun tidak ada iktikad baik dari Putin untuk mengakhiri invasi militernya terhadap Ukraina. Alih-alih mengakhiri invasi, Putin malah mengancam balik NATO dan tidak segan untuk melakukan serangan yang lebih dahsyat.

Meskipun telah mengalami banyak kekalahan termasuk kegagalannya merebut Kyiv, Putin tak kehabisan api semangat. Dalam peringatan hari kemenangan Uni Soviet atas Nazi (09/05), ia berpidato, membenarkan segala perbuatannya yang mencederai Hak Asasi Manusia dengan tedeng aling-aling menuduh neo-Nazi kepada Ukraina. Walau jet tempur tak menghiasi parade tersebut, siang itu langit Kremlin tetap membara.

Putin adalah petarung yang lahir dari cipratan darah perjuangan. Ia telah melewati masa-masa revolusi dan pertumpahan darah dalam hidupnya. Bersama KGB, ia menyaksikan revolusi Jerman meruntuhkan tembok Berlin. Dan saat keruntuhan Uni Soviet, ia berada di pihak yang berseberangan dengan pemerintah. Semua yang diperjuangkannya berjalan dengan baik. Ia percaya diri dengan semua tekad dan keputusan yang telah diambilnya. Satu dekade kemudian ia menjadi penguasa Rusia hingga hari ini.

Seperti pemimpin-pemimpin tanah Rusia sebelumnya, Putin memiliki obsesi besar terhadap sejarah. Untuk mengafirmasi obsesinya, ia seringkali menggunakan propaganda etnografis yang sarat akan muatan sejarah. Sejak menjadi presiden tahun 2000 silam, ia sering menggaungkan kampanye tritunggal bangsa Rusia. Kampanye ini memiliki tujuan besar, yakni menciptakan kembali Russkiy Mir (Russian World).

Tritunggal Rusia merujuk pada sejarah bangsa Rus abad ke-9 silam. Bangsa Rus merupakan nenek moyang orang-orang Slavik Timur yang terdiri dari Rusia Raya (Rusia), Rusia Kecil (Ukraina), dan Rusia Putih (Belarusia). Konsep sejarah ini kemudian menjadi cikal bakal ideologi pan-Rusianisme atau All-Russian Nation yang digelorakan oleh pemimpin-pemimpin Rusia sejak era kekaisaran hingga sekarang.

Ide mengenai tritunggal bangsa Rusia pertama kali muncul saat Kekaisaran Rusia menganeksasi Hetmanat Kazaki Ukraina atau dikenal dengan Negara Rus pada 1764. Hetmanat adalah negara kesukuan yang dipimpin oleh kepala negara bergelar Hetman. Kemudian, mitologisasi mengenai kesatuan bangsa Rusia dibuat untuk menciptakan kesolidan Kekaisaran Rusia dengan teritori jajahan barunya.

Gagasan tritunggal Rusia menjadi angin segar bagi para pemimpin Rusia saat Nikolai Karamzin, sejarawan romantik Rusia, mendukung autokrasi Rusia Raya terhadap dua sub-etnis lainnya. Melalui riset linguistik dan antropologi, ia menemukan kesatuan sejarah bangsa Slavik Timur. Baginya, Ukraina dan Belarusia harus berada di bawah otoritas kekuasaan Rusia. Pada 2016, koin berukir wajahnya dicetak sebagai bentuk penghormatan oleh Bank Sentral Rusia.

Pan-Rusianisme ini membawa arah politik Rusia kepada glorifikasi sejarah yang memunculkan bias identitas. Bias ini mengantarkan Rusia pada praktik politik iredentisme (dari bahasa Italia ‘irredento’ berarti penebusan). Ini merupakan sebuah konsep aneksasi negara atas dasar kesamaan identitas yang dilandasi sejarah. Namun pada kenyataannya klaim-klaim sejarah yang menjadi dasar argumen seringkali hanya berupa dugaan atau mitos tanpa bukti faktual.

Konsep politik inilah yang terus membayangi para pemimpin Rusia dan lagi-lagi hadir di bawah kekuasaan Putin. Juli tahun lalu, Putin mempublikasikan sebuah artikel berjudul “On The Historical Unity of Russians and Ukrainians”.

Dalam artikel ini, Putin mengeklaim kesatuan sejarah bangsa Rusia dan Ukraina. Ia menuliskan, “During the recent Direct Line, when I was asked about Russian-Ukrainian relations, I said that Russians and Ukrainians were one people.” Romantisisme sejarah ini kemudian dijadikan payung pembenaran perilaku bengisnya, “To have a better understanding to the present and look into the future, we need to turn to history.

Pasalnya, klaim Putin dibantah oleh 70% penduduk Ukraina dalam sebuah survey oleh Lembaga Riset Ukraina Razumkov Centre. Mereka meyakini sejarah yang berbeda dengan apa yang yang menjadi dasar pan-Rusanisme. Ya, memang benar bahwa Rusia dan Ukraina merupakan etnis yang berasal dari sebuah bangsa yang mendiami kawasan Slavik Timur. Akan tetapi, permulaan sejarah kedua bangsa ini berbeda.

Orang-orang Ukraina meyakini bahwa sejarah bangsa mereka bermula saat bangsa Rus memulai peradaban mereka di Kyiv. Mereka adalah Kyivan Rus, bangsa yang menjalankan pusat kegiatan ekonomi dan budaya mereka di kota Kyiv. Kyivan Rus berbeda dengan Muscovite Rus yang baru hadir di abad ke-14. Kedua etnis ini memiliki bahasa dan budaya yang berbeda.

Pada kenyataannya, tidak hanya Putin yang terbayang-bayang oleh imaginasi politik sejarah. Negara-negara besar yang memiliki sejarah panjang dengan bangsa jajahannya juga menderita penyakit memori serupa. Britania Raya, Perancis, hingga Belanda. Tentu kita semua ingat bagaimana Belanda bersikeras mempertahankan otoritasnya atas Indonesia dalam Konferensi Meja Bundar 1949.

Glorifikasi sejarah merupakan sebuah indikasi ketidakmampuan sebuah bangsa bangkit dari belenggu romantisisme. Romantisisme akan terus larut bersama krisis identitas. Kondisi ini akan membawa pelaku pada trayek sejarah yang tak akan pernah lepas dari ikatan identitas. Ia akan stagnan. Identitas baru tidak akan pernah lahir, mewaktu dan meruang bersama sejarah. Alih-alih menciptakan New Russian World, Putin akan mengubur Kremlin bersama Ancient Rus.

Di era modern ini, sejarah tak lagi bergerak melingkar. Suatu bangsa tidak lagi bangkit setelah kejatuhannya. Sehingga, mereproduksi sejarah adalah hal yang sia-sia. Sebaliknya, globalisasi membawa gerak sejarah ke arah yang berbeda.

Sejarah kini bergerak lurus. Kemajuan suatu peradaban bukanlah keunggulan atas lainnya, melainkan kemajuan semesta. Karena kini, dunia tak lagi dibangun atas peradaban bangsa-bangsa. Dunia dibangun oleh peradaban manusia kosmopolit di mana negara hanya sebagai sekat administratif melampaui etnis dan budaya.

Di sisi lain, Indonesia harus semakin siap menghadapi masa depan peradaban manusia yang kosmopolit. Multikulturalisme adalah modal penting dan beruntunglah Indonesia berkarakter majemuk. Jangan sampai tenggelam dalam romantisisme, dan pada akhirnya memitologisasi kejayaan Sriwijaya dan Majapahit.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Semarakkan Peringatan Satu Abad NU, Nahdliyyin di Tunisia Ngaji Kitab Mukaddimah Ibnu Khaldun

Kopiah.Co — Dalam rangka menyemarakkan satu abad Nahdlatul Ulama, warga NU (Nahdliyyin) di Tunisia ngaji kitab Mukaddimah Ibnu Khaldun....

Artikel Terkait