Antara Modernitas dan Keberkahan

Artikel Populer

Muhammad Farhan al Fadlil
Muhammad Farhan al Fadlil
Mahasiswa Universitas Al-Azhar Mesir | Tim penulis numesir.net | penikmat kopi dan buku

Kopiah.coRasionalitas dipercaya sebagai pijakan pertama di mana dunia modern memulai karir kesejarahannya. Di mulai dari Descartes yang merumuskan cogito ergo sum, yang melambangkan “si aku-logika-lah yang eksis, sebab itu semuanya tergantung pada aku-yang berpikir itu”, kemudian Eropa maju ke tengah-tengah teater kehidupan, hendak mengajari bagaimana manusia seluruh dunia semestinya bergerak dan berpikir.

Kemudian muncul globalisasi dengan demikian pertunjukan lakonnya. Hingga sampai era ini, abad 21, yang entah memang layak disebut sebagai era post-truth, yang saya lebih senang menyebutnya sebagai “era kebingungan”.

Bingung di sini saya artikan sebagai ketidakpastian. Sekilas dunia baik-baik saja, tapi perang gontok-gontokan masih mungkin terjadi. Kejadian pasca 11 September adalah bukti nyata.

Begitu juga kita melihat, secara sandang pangan, kita serba kecukupan. Internet menyajikan segala informasi tetek bengek dari yang berguna hingga yang sampah. Data apapun tersedia.

Rasanya kini tak ada lagi yang membatasi antara manusia dan pengetahuan. Untuk baca buku misalnya, saat ini kita bisa dengan mudah mengakses e-book gratis dari buku-buku berkualitas. Untuk hiburan, tersedia konten-konten hiburan dari berbagai kreator seluruh dunia yang terdapat di YouTube.

Tak ada lagi batas-batas, namun anehnya, barangkali tak banyak dari kita yang kunjung puas. Gabut: semacam perasaan dirundung ketidakjelasan, bingung mau apa dan harus bagaimana.

Malah uniknya, ada yang bilang, pada sekarang ini justru yang menjadi masalah orang-orang modern adalah kepalanya sendiri. Saya setuju dengan pendapat ini, meskipun perlu ada dicatat lagi, bahwa kerja otak tak bisa dilepaskan dengan kondisi mental. Ini poinnya.

Bagaimana seseorang bisa berpikir jernih jika ada sesuatu dalam mentalnya? Begitupun sebaliknya, rata-rata orang kuat secara mental terlahir dari pergulatan pemikiran yang baik.

Kalau boleh beri alasan, mungkin penyebabnya adalah karena terbiasa dengan segala kemapanan, lahir dan besar dalam ekosistem globalisasi yang serba instan rupanya berdampak pada karakter berpikir.

Saya bukan seorang neurolog, tapi saya punya otak, dan otak saya mau tak mau harus beradaptasi dengan model kehidupan saat ini. Dan saya merasakan itu. Kenapa tiba-tiba galau, ketemu sedikit persoalan saja otak saya kayak anak kecil yang cengeng menangis sambil memelas terhadap realitas. Menyebalkan sekali.

Kemudian, beberapa hari yang lalu, seperti biasanya saya iseng buka sosial media. Jelas saya iseng, karena saya tahu sosial media tak begitu berdampak positif dalam hidup saya, namun hal-hal semacam itu, mondar-mandir story, keluar-masuk beranda harus saya lakukan dan ulangi setiap hari meski tanpa tahu apa alasannya. Membosankan.

Lalu, tanpa sengaja melihat postingan teman pas mondok dulu, kira-kira isinya gini, “Semoga …. ini mendapat berkah!” Saya terperanjat. Iya ya! Berkah ya! Entah kenapa belakangan ini kata yang begitu familiar dalam pribadi saya dulu itu, sekarang agak luntur. Kenapa saat ini pola pikir saya begitu pramatis. Kalau mau ilmu, ya baca. Kalau mau kaya, ya kerja.

Memang tidak ada yang salah dari frasa semacam itu. Namun, kenapa seolah-olah hidup dipenuhi kausalitas, seolah semua adalah capaian rasio secara total semacam itu? Dan salah satu efek yang menyebalkan adalah, ketika kita berhadapan dengan fakta yang tidak sesuai dengan tuntutan kita, maka hasilnya adalah resah, galau, dan bingung.

Jelas, karena di sini model pikiran sudah merambah ke mental. Pikiran hanya mengenal dirinya sendiri. Saat ia berhadapan dengan sesuatu yang baginya asing, dan tak diinginkannya, maka segeralah ia butuh healing.

Tidak seperti orang-orang tua itu, yang meskipun gak begitu banyak teori dalam dirinya, kita lihat mereka tampak lebih kokoh dan bijak dalam menjalani kehidupan. Lebih khusyuk dalam beribadah, dan terkesan lebih tepat mengamalkan agama meski tidak banyak ilmu, seperti anak-anak muda seperti kita ini.

Rasanya, meski mereka tak banyak pengetahuan, namun mereka terlihat lebih dekat dengan nilai dan kebenaran. Dan kita perlu belajar dari para koruptor, apakah mereka melakukan itu karena tidak berpengetahuan? Bukan itu. Rupanya wawasan keilmuan yang dimiliki tak cukup mendidik mental serakah dan miskin mereka untuk bersyukur dan merasa cukup.

Di sini, kita perlu mempelajari lagi perihal keberartian dan nilai kegunaan. Dawud bin Makhila mempunyai penjelasan menarik perihal fungsi pengetahuan. Ibnu Makhila adalah seorang sufi besar dalam tarekat Syadziliyah, yang konon adalah seorang ummy (tak mengenal baca-tulis) dan kalam-kalam hikmahnya terangkum dalam kitabnya Uyun al-Haqaiq.

Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang berguna. Ia tidak bisa diukur dari segi kuantitas, kualitas kerumitannya atau apapun itu, melainkan dilihat dari segi kegunaan dan keberkahannya.

Bahkan orang-orang awam yang tak kenal ilmu macam-macam itu, ternyata ketika mendapat keberkahan, “mereka sampai pada tahap ilmu hakikat, rasasia-rahasia agama, bahkan ilmu-ilmu tarekat yang rumit sama sekali.” Hal itu menurut beliau sesuai dengan firman-Nya:

Allah tidak memberati seseorang melainkan (sekadar kemampuan) yang diberikan Allah kepadanya (QS. At-Tolaq: 7).

Dari sini saya curiga, jangan-jangan karakter modernitas memang sengaja disetting dengan kepentingan-kepentingan, segala yang tampak dikejar; kejernihan menghilang entah kemana.

Dan keberkahan — unsur-unsur yang tak kasat mata itu– menjadi semacam alien, makhluk luar angkasa yang jauh dari keberadaan kehidupan. Apalagi dipaksa berkarib dengan manusia modern saat ini, yang begitu percaya dengan teori konspirasi mahakuasa logikanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Asa Nahdlatul Ulama Merawat Jagat

Menyongsong abad kedua, Nahdlatul Ulama semakin melipatgandakan amal untuk mewarnai dunia. Siapapun akan menggelengkan kepala ketika mengamati langkah ambisius...

Artikel Terkait