Dialektika Peradaban adalah Kunci Perdamaian Dunia

Artikel Populer

Kunti Zulva Russdiana Dewi
Kunti Zulva Russdiana Dewi
Mahasiswa Universitas Al-Azhar Mesir | Redaktur Ahli Bedug Media | Fatayat Study Club Mesir | Anggota kajian di Sekolah Tinggi Filsafat Girinata | Anggota kajian Salon Budaya PCINU Mesir

Gemuruh upaya bangkit dari krisis kemanusiaan, kini ramai digaungkan oleh para pemuka agama dan tokoh elit global. Akhir tahun 2022 agaknya akan menjadi tahun paling mengesankan. Semarak perdamaian disuarakan melalui G20 yang juga memuat R20 hingga Forum Dialog Kemanusiaan yang diadakan di Bahrain 4 November lalu. Pertemuan antara Syekhul Azhar Ahmad al-Thayyib dengan Paus Gereja Katolik Fransiskus bertemakan “Timur dan Barat untuk Koeksistensi Manusia” adalah potret dari promosi perdamaian demi terciptanya kehidupan manusia yang adil dan lebih toleran.

Dalam sambutannya di depan Raja Bahrain Hamad bin Issa, Syekhul Azhar Ahmad al-Thayyib menawarkan konsepsi “at-ta’âruf al-hadhâriy” sebagai sikap keterbukaan dan pemberdayaan setiap masyarakat global. Ini merupakan teori oriental untuk dapat menggantikan “shirâ’ al-hadâriy” atau konflik peradaban. Bahwa dengan dialektika, setiap masyarakat global dari setiap kelas akan berusaha membuka setiap horizon (dunia mental dari masing-masing masyarakat global; baik keyakinan hingga etika sosial) untuk mempersilahkan yang liyan mengenal dunianya. Artinya, konsepsi ini merupakan sikap kompromistis untuk membuka dialog secara terbuka terutama mengenai ranah keyakinan dan kepercayaan, yang karenanya perdamaian dunia tengah terancam.

Sebagaimana peleburan horizon oleh Hans-Georg Gadamer, dalam pidatonya, Syekhul Azhar mengungkapkan bahwa sejatinya sebagai manusia, kita diharuskan untuk selalu bisa melebur. Melebur di sini bukan diartikan sebagai dominasi yang menyebabkan identitas dari kedirian masing-masing subjek hilang, atau diartikan sebagai subjek (Dasein) yang hanyut oleh realitas (Dasman). Akan tetapi peleburan ialah sebuah proses atau cara untuk menghayati dan memahami yang liyan. Saling mengenal, merasa familiar dan tidak merasa asing. Melebur di sini dapat disederhanakan menjadi sikap menghargai atau toleran, sehingga terciptalah keseimbangan di setiap lini kehidupan. Lantas bagaimana kita melihat bahwa konsepsi yang ditawarkan dapat menjamin perdamaian dan menciptakan keseimbangan di kehidupan masyarakat global?

Dialektika Peradaban Menuju Perdamaian Global

Forum Dialog Kemanusiaan ini adalah satu dari beberapa upaya, bagaimana para pemuka agama dan tokoh elit masyarakat global merehabilitasi agama di tengah arus masyarakat sekularis. Menyadari di beberapa era terakhir ini, agama kerap dijadikan sebagai dalang atas krisis kemanusiaan. Atau bahkan dilabeli sebagai sebuah lembaga yang tak cukup mampu menyelasaikan konflik sosial? Ini mengapa tema kemanusiaan getol disuarakan oleh Syekhul Azhar Ahmad al-Thayyib sejak dulu. Perannya sebagai inisiator dalam pertemuan forum tersebut, mengajak seluruh pemuka agama lainnya untuk bisa berdikusi, berkolaborasi menyelesaikan konflik sosial. Krisis kemanusiaan adalah tanggung jawab bersama terlepas dari sebuah keyakinan dan kepercayaan.

Inilah mengapa penting bagi manusia untuk memiliki sikap melebur. Perbedaan dari masing-masing peradaban, tradisi, dan otoritas legitim yang melingkupi setiap pemuka agama dan tokoh masyarakat global, adalah hal yang niscaya dan perlu disadari sedari awal. Bagaimana kemudian sebuah dialektika terbuka mengarahkan pada komunikasi hingga menciptakan kesepahaman, yakni kemanusiaan dan keadilan. Bahwa amanat Tuhan yang diberikan kepada manusia, yakni menjaga ketentraman apa-apa yang ada di bumi tempat ia tinggal, alam dan manusia itu sendiri, dapat disadari melalui tindakan peleburan.

Untuk dapat melebur satu sama lain, Syekhul Azhar mengangkat poin utama dalam konsepsi yang ditawarkan, yakni “at-ta’âruf.” Mengapa demikian? Karena sikap saling mengenal di sini merupakan konsekuensi penciptaan. Allah SWT menciptakan hamba-hamba-Nya dengan berbeda ras, warna kulit, agama, setiap masing-masing mereka memiliki karakteristiknya. Dan karena karakteristik itulah, mereka menjadi berbeda-beda hingga sejarah manusia nantinya tamat. Sebuah kesadaran primordial yang sedari awal telah dibacakan kepada umat manusia. Sebagaimana Al-Quran menarasikan, “Dan sekiranya Allah menghendaki, tentu ia akan menjadikan umat manusia menjadi umat yang satu, namun senantiasa mereka berselisih pendapat,” (Q.S. An-Nahl: 93).

Sayangnya, kesadaran semacam ini tak banyak digelorakan oleh masyrakat global. Perselisihan yang sempat disebut oleh Raja Bahrain dalam sambutannya bahwa konflik yang terjadi antara Rusia dan Ukraina adalah gambaran bagaimana mereka tak pernah menyentuh kesadaran sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Berawal dari perang dingin, tak ingin menyapa hingga akhirnya melahirkan perang senjata adalah kegagalan manusia mengenal sang liyan untuk bisa hidup damai dan berdampingan sebagai bentuk keniscayaan.

Dalam ekspresi ciptaan-Nya yang majemuk, tentu saja kebebaasan dan kemandirian terhadap apa yang masing-masing manusia pikirkan, adalah sebuah kondisi yang tak bisa dihindarkan. Kebebasan ini selaras dengan firman Allah, “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat,” (Q.S. Al-Baqarah: 256). Lantas kemudian Nabi Muhammad SAW menerangkan, “kamu tidak memiliki kendali atas itu (kepercayaan dan keyakinan).”

Sayangnya, manusia kerap lupa bahwa urusan keyakinan dan kepercayaan adalah hak prerogatif Tuhan. Bagaimana kuasa dan kendali penuh ada di tangan-Nya. Naas, anti toleran dan kefanatikan merajalela dengan mengatasnamakan agama sebagai otoritas yang melegitimasi tindakan mereka sebagai bentuk kebenaran. Kaum separatis bergejolak demi menegaskan identitas dan eksistensi mereka.

Dalam sejarah Indonesia sendiri, Darul Islam di bawah pengawasan ISIS yang memasuki kawasan Indonesia melalui jalur Aceh, faktanya menjadi cikal bakal bagaimana Indonesia saat ini tengah memasuki zona rawan teroris. Sekalipun hukum tengah menjadi aliansi pengawasan yang ketat dalam memberikan ketetapan pada pelaku teroris. Namun undang-undang tak cukup membendung resonansi dari kaum separatis yang militan. Untuk itu, perlu adanya peleburan antara masyarakat dan pemerintah untuk membentuk sebuah aliansi yang lebih kuat dan menciptakan pemahaman kolektif. Dengan begitu, memahami yang liyan adalah menjadi satu kesatuan dari puzzle dan bagian dari kehidupan kita.

Konsepsi “at-ta’âruf” juga selaras dengan firman Allah SWT, “Hai Manusia, sesungguhnya kami menciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan, dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kalian dapat saling mengenal,” (Q.S. Al-Hujurat: 13) Syekhul Azhar menjelaskan bahwa dua urutan logis pertama, yakni kemajemukan sebuah ciptaan, akan melahirkan kebebasan dan kemandirian pemikiran dari masing-masing manusia, dan keduanya adalah konsekuensi logis dari bagaimana “at-ta’âruf” hadir melalui pesan Al-Quran. Ini menggambarkan pesan agama selalu melalui tahapan logis untuk menciptakan sebuah konsepsi untuk selalu diimplementasikan.

Melalui urutan tersebut, maka Al-Quran adalah mediasi untuk mengontrol dari bagaimana hubungan antar sesama manusia yang hidup dalam kemajemukan. Sedangkan, pesan perdamaian ini telah lama terdistorsi oleh tradisi dan otoritas non-legitim dari masing-masing kelas masyarakat global, terutama pemuka agama dan tokoh elit masyarakat. Artinya, tradisi dan otoritas yang banyak dipakai oleh masyarakat global adalah sesuatu yang hanya disempitkan oleh kecenderungan dan kefanatikan. Adapun tradisi dan otoritas yang legitim akan dapat membaca dan menghayati bagaimana pesan perdamaian melalui konsepsi “at-ta’âruf” dapat sampai kepada naluriah manusia, sebagai pesan yang bisa inheren dan mengakar kuat dalam kesadaran manusia. Maka jelas, konsepsi ini dapat menjamin perdamaian di antara umat manusia karena telah sampai pada relung hati manusia terdalam, jika hal ini benar dan nyata terealisasikan. Dengan begitu, dialektika peradban sebagai tindakan peleburan dengan yang liyan, adalah kunci perdamaian dunia.  

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Asa Nahdlatul Ulama Merawat Jagat

Menyongsong abad kedua, Nahdlatul Ulama semakin melipatgandakan amal untuk mewarnai dunia. Siapapun akan menggelengkan kepala ketika mengamati langkah ambisius...

Artikel Terkait