Keliru Memahami Hadits Menurut Kyai Ali Mustofa Yakub

Artikel Populer

Kopiah.co – Seiring berkembangnya teknologi, tentunya sangat memudahkan bagi siapa saja untuk belajar dan mengakses ilmu pengetahuan. Seperti dari youtube, instagram, dan semua jenis media sosial, bisa jadi wadah bagi siapa saja untuk belajar. Apa lagi dengan google yang semakin canggih. Bayangkan, semua yang ingin kita ketahuia ada di platform tersebut.

Namun, kita pun harus cerdas dalam menggunakan, mengambil, dan menyikapi segala sesuatu yang ada di media sosial. Kita harus mengolah hal-hal yang kita dapatkan dari media sosial, tidak boleh langsung ditelan tanpa diketahui kesahihannya terlebih dahulu. Khususnya dalam pemahaman ilmu agama.

Beberapa tahun terakhir, kita dihadapkan dengan fenomena kajian-kajian Ilmu agama di media sosial, khususnya youtube, oleh para pendakwah. Tentu fenomena ini sangat positif dan bermanfaat karena dapat memudahkan masyarakat untuk mendapatkan pengetahuan yang bisa diakses tanpa perlu pergi ke luar rumah.

Ya, realitas ini sungguh membawa banyak dampak positif. Hanya dengan bermodalkan pulsa dan internet kita bisa mendapatkan banyak informasi baik ilmu agama maupun ilmu-ilmu umum lainnya. Tetapi pada saat yang sama, realitas ini juga memiliki dampak negatif.

Saya melihat, ada beberapa pendakwah di media sosial yang kerap kali dengan mudah menyalahkan pendapat orang lain tanpa mengklarifikasi terlebih dahulu, bahkan sampai mengkafirkan yang lainnya, padahal sesama muslim, dengan alasan perilaku orang lain yang ia klaim salah, tidak sesuai hadits Nabi SAW. Tentu ini merupakan kegaduhan yang dapat menimbulkan pertikaian.

Sebagai contoh, ada pendakwah yang memahami hadits tentang memelihara jenggot dan memakai celana di atas mata kaki merupakan sunnah, lalu menyalahkan orang lain yang tidak memiliki jenggot dan tidak memakai celana di atas mata kaki, karena menganggap hal tersebut tidak sesuai sunnah.

Pun karena pendakwah tersebut berpendapat bahwa merayakan maulid Nabi SAW tidak sesuai sunnah, sehingga ia pun dengan mudah menyalahkan orang lain yang merayakan maulid Nabi SAW. Perkara ini tentunya akan memecah belah umat dan menimbulkan kegaduhan di tengah masyarakat.

Realitas di atas sungguh miris sekali. Padahal, dalam memahami hadits Rasulullah SAW, banyak hal yang harus diketahui dan dipahami. Kiyai Ali Mustofa Yakub, pakar hadits dan ulama Indonesia mengatakan, “ Ada beberapa langkah yang harus kita ketahui ketika mendengar atau mendapati hal itu”.

Dalam bukunya yang berjudul “al-Turuq al-Sahihah fi fahmi al-Sunnah al-Nabawiyyah“, ia menjelaskan bahwa yang harus kita pahami adalah pemahaman secara tekstual dan kontekstual. Kita harus mengetahui makna teks atau pun maksud hakiki dari hadits. Terkadang yang dimaksud adalah kandungan hadits secara kontekstual, sehingga implementasinya pun harus kontekstual.

Namun terkadang ada juga yang dimaksud adalah kandungan hadits secara tekstual dan kontekstual sekaligus, sehingga hadits tersebut boleh diamalkan dari salah satu keduanya. Maka sesungguhnya kita harus benar-benar memahami teks dengan baik.

Dalam sebuah kisah, suatu ketika sebelum Nabi SAW wafat, beliau ditanya oleh para istrinya : “Siapa di antara kita yang mendahuluimu? Nabi menjawab : “Seorang yang panjang tangannya di antara kalian”.

Setelah wafatnya Nabi, para istri Nabi pun mengukur tangan satu sama lain. Lalu di antara para istri Nabi terdapat Saudah yang memiliki tangan yang lebih panjang dari yang lain, namun yang menyusul setelah wafatnya Nabi adalah Zainab. Dan Zainab adalah salah satu istri nabi yang gemar bersedekah selama hidupnya.

Dari hadits di atas, kita bisa mengetahui bahwasanya hadits tersebut memiliki makna majazi, bukan tekstual. Makna dari panjang tangannya adalah orang yang senang bersedekah.

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk memahami hadits secara tekstual dan kontekstual. Maksudnya adalah kita dapat memahami hadits, baik dari segi majaz dalam hadits, takwil dalam hadits, illatnya, begitu juga dengan budaya dan kondisi geografis ; kapan dan dimana hadits itu diucapkan oleh Nabi.

Kemudian kita juga harus memahami hadits secara sistematis. Terkadang beberapa hadits disampaikan dengan ringkas, dan beberapa disampaikan panjang lebar oleh Nabi. Maka di sini lah kita harus memiliki pemahaman secara sistematis. Antara satu hadits dengan hadits lain, mungkin saling berkaitan. Beberapa makna yang belum dapat kita ketahui dalam satu hadis, terkadang dapat dijumpai dalam hadis yang lain .

Dan yang terakhir adalah dalam memahami hadits yang dianggap kontradiktif. Yaitu antara hadits satu dengan hadits lain saling bertentangan. Bertentangan secara zahir namun tidak bertentangan secara makna.

Hal ini pun telah dibahas oleh para ulama terdahulu, seperti Imam Syafi’i dalam kitabnya al-Umm, ia mengatakan ada beberapa metode dan pendekatan dalam memahami hadits. Yang pertama, penyelesaian dalam bentuk kompromi, yaitu berdasarkan prinsip ushul, pemahaman kontekstual, berdasarkan pemahaman korelatif, dan pemahaman dengan cara takwil.

Yang kedua, penyelesaian dalam nasakh. Yang ketiga, penyelesaian dalam bentuk tarjih. Dan yang keempat, penyelesaian dalam bentuk tanawwu’ al-ibadah (jenis-jenis amalan). Setelah kita memahami dan melalui prosedur semua ini, barulah kita dapat mengetahui maksud dan makna yang ingin dituju dalam hadits tersebut.

Beberapa penjelasan dan metode yang sudah saya jelaskan diatas bisa kita gunakan ketika mendengar hadits yang disampaikan oleh para pendakwah, baik di media sosial maupun di tempat-tempat kajian lainnya.

Pelajaran lainnya adalah, seyogianya kita menjadi pendengar dan pencari ilmu yang bijaksana, yang mencari dan mengkaji segala sesuatu dengan baik, tidak mudah menyalahkan, dan tidak fanatik buta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Ilmu Kalam dan Klasifikasi Tradisi Kalam Menurut Ibnu ’Asyur

Kopiah.co - Pertikaian yang dicatat dalam khazanah kelimuan Islam, khususnya Ilmu Kalam memiliki corak unik dalam sejarah panjang perkembangannya....

Artikel Terkait