Membumikan Al-Qur’an menurut Imam Besar Thahir Ibnu ‘Asyur

Artikel Populer

Kopiah.co – Agama Islam didasarkan pada Al-Qur’an dan Sunnah. Sebagai sumber utama Islam, Al-Qur’an adalah Firman Allah yang tak terbantahkan dan tak ada bandingannya. Hal itu diwahyukan Allah dalam bahasa Arab melalui Nabi Muhammad Saw. yang (beliau) tidak memiliki peran dalam menulis Al-Qur’an; dia hanyalah sebagai Utusan, mengulangi perintah Sang Pencipta.


Karena gaya bahasanya yang unik, Al-Qur’an tidak hanya sangat mudah dibaca, tetapi juga relatif mudah untuk diingat. Aspek ini telah memainkan peran penting tidak hanya dalam pelestarian Al-Qur’an, tetapi juga dalam kehidupan spiritual umat Islam. Dan sampai hari ini, Al-Qur’an tetap menjadi satu-satunya kitab suci yang tidak pernah diubah dan terbebas dari segala pemalsuan. Dengan demikian, keasliannya tidak bercacat dan pelestariannya dipandang sebagai pemenuhan janji Tuhan.


Pembacaan terhadap Al-Qur’an, baik dari segi penafsiran, epistemologi, metodologi, dan lain sebagainya, selalu berkembang dari masa ke masa bahkan tidak akan pernah berhenti selama proses penafsiran dilakukan.

Perkembangan pembacaan tersebut, mulai dari yang paling sederhana hingga yang paling rumit, merupakan konsekuensi logis dari usaha manusia untuk mendialogkan teks yang terbatas dengan konteks yang terus berkembang. Hal tersebut adalah implikasi dari pandangan bahwa Al-Qur’an shalih likulli zaman wal makan.


Salah satu tokoh mufassir yang melakukan usaha tersebut adalah imam agung Syeikh Muhammad Thahir Ibnu ‘Asyur. Seorang ulama kontemporer yang berasal dari negeri al-Khadra, Tunisia. Pemikiran-pemikiran beliau mempunyai pengaruh yang sangat besar di bidang tafsir dan juga diskursus Maqasid Syari’ah di dunia pemikiran Islam.


Dalam kitabnya yang berjudul Syaikhul Islam al-Imam al-Akbar Muhammad Thahir Ibnu ‘Asyur, Muhammad Habib bin Khujah, salah satu muridnya menyebutkan bahwasannya nama lengkap Syeikh Ibnu ‘Asyur adalah Muhammad Thahir bin Muhammad bin Muhammad Thahir bin Muhammad bin Muhammad Syadzili bin Abdul Qadir bin Muhammad bin ‘Asyur. Ibunya bernama Fatimah; putri seorang Syekh Besar dan juga Perdana Menteri yakni Muhammad Aziz bin Muhammad Habib bin Muhammad Thayyib bin Muhammad ‘Attar.


Beliau lahir di pinggiran kota Al-Marsa, Tunisia pada bulan Jumadil ‘Ula tahun 1296 H atau bulan September tahun 1879 M dari sebuah keluarga tehormat yang berasal dari Andalusia. Ibnu Asyur sendiri dibesarkan dalam lingkungan yang kondusif, khususnya bagi seorang yang cinta dengan ilmu. Karena kakeknya yaitu Muhammad Tahir bin Muhammad bin Muhammad Syazili adalah seorang ahli nahwu, ahli fikih, dan pernah menjabat sebagai ketua qadhi di Tunisia pada tahun 1851 M dan menjadi mufti negara pada tahun 1860 M.


Al-Qur’an adalah sebenar-benarnya wasiat Sang Pencipta kepada Khaliq-Nya. Bahkan, kitab yang menjadi pemelihara peradaban yang menyentuh semua lingkaran sosial yang meliputi individu, keluargam, masyarakat, negara, umat, dan manusia secara keseluruhan. Imam Ibnu ‘Asyur dalam kitabnya Tahrir wa Tanwir mengatakan:
« Sesungguhnya Allah swt menurunkan Al-Qur’an untuk kebaikan seluruh umat manusia, rahmat bagi mereka untuk sampai kepada apa yang Allah kehendaki, Allah swt berfirman : (Dan Kami telah menurunkan kepadamu Kitab (Al-Qur’an) sabagai penjelasan segala sesuatu, sebagai petunjuk, serta rahmat dan kabar gembira bagi orang yang berserah diri. An-Nahl : 89 ). Jadi, yang dimaksud disini adalah memperbaiki kondisi individu, kolektif dan peradaban. »


Sebagai makhluk istimewa yang telah dikaruniai akal dan dibedakan dari makhluk Tuhan lainnya, kita harus bisa mengambil ibrah dari apa yang Allah wahyukan kepada umat manusia melalui utusannya nabi Muhammad Saw. Ketika Aisyah ditanya bagaimana akhlak Rasulullah, Aisyah mengatakan bahwa akhlak Rasulullah adalah Al-Qur’an. Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al-Qalam ayat 4 :
وإنك لعلى خلق عظيم
“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur”.
Al-Qur’an mengajarkan ilmu sesuai dengan zaman pembaca. Selain itu juga mengandung hikmah. Seperti halnya kisah orang terdahulu yang dholim sudah dirangkum di dalamnya. Dan sebaliknya diceritakan kisah-kisah orang sholih pula.


Jelaslah, Al-Qur’an adalah kitab yang memberikan nutrisi spiritiual dan intelektual yang sangat dibutuhkan manusia. Seperti yang telah disebutkan Ibnu ‘Asyur : « Seandainya orang-orang Muslim kehilangan pengetahuan -dan perlindungan Allah- dan hanya Al-Qur’an yang tersisa di antara mereka, niscaya mereka akan mencapai apa yang mereka butuhkan dalam urusan agama mereka ».

Tema utamanya meliputi keesaan Tuhan, tujuan eksistensi manusia, iman, akhirat dan signifikasinya. Al-Qur’an juga sangat menekankan pada akal dan pemahaman.
Dalam bidang pemahaman manusia ini, Al-Qur’an lebih dari sekedar memuaskan kecerdasan manusia; juga menyebabkan seseorang berefleksi.

Singkatnya, Al-Qur’an memenuhi hati, jiwa dan pikiran manusia. Al-Qur’an bukanlah sekedar wahyu ilahi, Al-Qur’an juga mempunyai misi untuk membumikan petunjuk dan hidayah dalam realitas kontemporer.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Ilmu Kalam dan Klasifikasi Tradisi Kalam Menurut Ibnu ’Asyur

Kopiah.co - Pertikaian yang dicatat dalam khazanah kelimuan Islam, khususnya Ilmu Kalam memiliki corak unik dalam sejarah panjang perkembangannya....

Artikel Terkait