Kosmopolitanisme Islam dalam Kacamata Abdul Aziz Al-Tsa’alaby

Artikel Populer

Kopiah.Co — Kopiah.Co dan Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah Tunisia memiliki program diskusi buku “Ruh Al-Taharrur fi al-Quran”, sebuah buku babon yang ditulis oleh Abdul Aziz Al-Tsa’alabi, ulama besar asal Zaitunah yang juga menjadi pejuang kemerdekaan Tunisia. Melalui buku fenomenalnya tersebut, Tsa’alaby menegaskan bahwa semangat perjuangan kemerdekaan yang ia gagas terinspirasi dari al-Qur’an.

Catatan-catatan yang ia tulis melalui buku Spirit Pembebasan dalam al-Qur’an tersebut tidak lepas dari waktu dan tempat ia hidup, yaitu pada abad 20 disaat negaranya, Tunisia berada dalam kolonialisme Perancis. Bagi Tsa’alaby, Islam sebagai agama telah benar-benar memberikan pedoman hidup yang kokoh mengenai prinsip dan nilai-nilai luhur yang mesti dijalankan dalam menjalani kehidupan di muka bumi.

Di antara dimensi pemikiran Tsa’alaby tentang Islam ialah kehadiran agama di muka bumi ini tidak lain hanyalah untuk membawa kebaikan dan kemaslahatan bagi pemeluknya. Begitu pun, Islam sebagai agama yang disampaikan oleh Nabi Muhammad Saw. telah mengajarkan kepada umatnya agar dapat berpikir terbuka, sehingga mampu hidup berdampingan dengan sesama, serta dapat menjunjung tinggi nilai-nilai kesetaraan.

Satu hal yang menarik bagi saya dalam bukunya Tsa’alaby yaitu ketika ia membahas hubungan antara Islam dan Kristen. Menurut Tsa’alaby, Islam dan Kristen sebagai agama memiliki kesamaan ajaran, yaitu menyembah Tuhan dan melakukan berbagai rangkaian kebaikan yang diperintahkan oleh Tuhan.

Sejak masa Nabi Muhammad, Islam tumbuh sebagai agama kosmopolitan yang mampu hidup berdampingan dengan agama lainnya. Bahkan, dalan proses dakwah Nabi, Tsa’alaby menjelaskan bahwa umat Kristen pun tak jarang ikut serta menghadiri majelis-majelis Nabi yang digelar di Masjid. Fenomena demikian pula lah yang menjadikan Islam di masa itu memiliki banyak pengikut.

Kita tahu, di era kepemimpinan Shalahuddin Al-Ayyubi dan Baudouin IV, hubungan erat antara Islam dan Kristen terjalin begitu hangat. Toleransi dan persaudaraan menjadi ciri yang melekat di antara sesama manusia beragama. Dua sosok pemimpin itu memiliki kepribadian yang sangan bermartabat dan mengajarkan kita untuk hidup berdampingan (koeksistensi).

Di masa itu, Baudouin IV mempersilakan umat muslim dan yahudi untuk berziarah ke Yerussalem dan bahkan dijamin keamanannya. Sebaliknya, Shalahuddin Al-Ayubi pun sosok pemimpin yang senantiasa mengedepankan kedamaian dan persaudaraan.

Meskipun, di tengah koeksistenasi yang dibangun oleh Salahuddin, Guy de Lusignan dan Reynald de Chatillon hadir memprovokasi perpecahan di antara umat Muslim dan Kristen. Namun, kepemimpinan Salahuddin sebagai ksatria yang selalu mendorong persaudaraan antar sesama mampu memenangkan peperangan.

Kembali ke Tsa’alaby. Koeksistensi antara Islam dan Kristen sesungguhnya telah tercatat dengan baik oleh tinta emas sejarah. Sebab itu, upaya-upaya provokatif yang selalu membenturkan antar dua agama ini tidak akan pernah berhasil.

Selain itu, Tsa’alaby berpandangan bahwa peradaban dunia yang terus berkembang ini harus dibarengi dengan pemahaman keagamaan yang progresif, yang senantiasa relevan dan mampu menjawab tantangan zaman. Sebab itu, bagi Tsa’alaby, Islam yang selalu mengandalkan fikih (hukum) tidak selalu relevan untuk terus dipakai di era sekarang.

Misalnya, hukum potong tangan bagi yang mencuri, tidak selalu benar. Dalam ilmu maqashid al-syari’ah al-Islamiyyah, Muhammad Thahir bin ‘Asyur menyampaikan, bahwa hukum potong tangan bisa saja menimbulkan madharat yang lebih berbahaya. Sehingga dalam pandangan Ibnu ‘Asyur, harus ada alternatif lain yang dapat membawa pada kemaslahatan, sehingga si pencuri masih bisa melakukan berbagai aktivitas kebaikan dan tetap bisa membuat jera tanpa menimbulkan bahaya yang berlebihan.

Selain itu, berangkat dari koeksistensi yang telah dibangun oleh Nabi di antara umat beragama, Tsa’alaby juga berpandangan bahwa Islam adalah agama yang menjunjung tinggi kesetaraan dan penghormatan kepada sesama manusia. Sebab itu, penghinaan dan provokasi yang menyebabkan perpecahan di antara sesama bukanlah ajaran Islam.

Tsa’alaby juga tak jarang mengkritik para ulama Tafsir yang keliru dalam memahami al-Qur’an. Bagi Tsa’alaby, ruh dari al-Qur’an itu adalah kasih sayang. Maka itu, menurutnya tidak mungkin jika al-Qur’an memerintahkan umat manusia untuk memerangi satu sama lain.

Islam hadir ke muka bumi tak lain menjadi kasiu sayang bagi semesta alam. Tema sentral kehadiran Islam adalah memberi perdamaian dan menjunjung persaudaraan. Karena sesungguhnya Islam sebagai agama kosmopolitan telah memiliki sejarah panjang dalam menebar perdamaian dan hidup berdampingan (koeksistensi) dengan lintas suku maupun agama.

Saat ini, dalam konteks negara modern, sesungguhnya kesetaraan harus menjadi modal utama dalam menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara. Konsep kesetaraan ini mengantarkan seluruh umat manusia untuk bisa mendapatkan hak-haknya, terutama hak hidup dan beribadah.

Kesetaraan maknanya adalah bahwa seluruh makhluk Tuhan di muka bumi ini memiliki kedudukan yang sama. Dari kedudukan yang sama itulah, gotong-royong dan kerja sama di antara sesama manusia dapat terjalin.
Tsa’alaby melalui bukunya Ruh al-Taharrur fi al-Qur’an sesungguhnya telah membuka cakrawala penulis dalam memandang kehidupan dunia, bahwa sejatinya kita hidup di muka bumi ini untuk menebar kasih sayang. Sebab itu, kekerasan, perpecahan, dan pertikaian sesungguhnya bertentangan dengan nilai dan prinsip agama sebagai pedoman hidup.

Tulisan ini bagian dari refleksi penulis terhadap pentingnya pemikiran yang terbuka (inklusif) bagi kita sebagai muslim, yang jelas-jelas Islam telah mengajarkan toleransi, kesetaraan, dan koeksistensi. Ketiga nilai-nilai tersebut merupakan prinsip dasar yang sesungguhnya menjadi jalan yang harus kita tempuh dalam membangun peradaban dunia yang damai, berkeadilan, dan berkeadaban.

Penulis adalah Fairus Ramadhan, Mahasiswa Universitas Zaitunah, Tunisia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Cerita dari Palestina : Berbaik Sangka kepada Imigrasi Paling Ketat, Allenby Border

Kopiah.Co — Berbaik sangka dalam menjalani apapun ternyata dapat menjadi perjalanan hidup kita menjadi ringan, termasuk saat singgah ke...

Artikel Terkait