Mengapa Bung Karno Menentang Israel?

Artikel Populer

Muhammad Farhan al Fadlil
Muhammad Farhan al Fadlil
Mahasiswa Universitas Al-Azhar Mesir | Tim penulis numesir.net | penikmat kopi dan buku

FIFA telah resmi membatalkan Indoenesia untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia. Kita mengerti bagaimana perasaan masyarakat Indonesia, khususnya TIMNAS U20 yang telah berjuang berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun guna menuju sepak bola Indonesia akan bangkit dan menjadi lebih baik.

Tapi, situasi sedang tidak baik-baik saja. Dan mustinya, ini tidak perlu dipahami secara salah atau sebagai sesuatu yang menjatuhkan.

Tidak! Masyarakat Indonesia tidak perlu berkecil hati. Kita sudah berada di jalan yang benar. Sikap kita telah jelas sejak semula. Kita tidak menolak Fifa, namun yang kita tolak adalah kedatangan Zionis Israel ke Indonesia. Mengapa musti demikian? Jawabannya jelas: Karena kita punya sikap Nasionalisme yang tegas!

Prinsip bangsa kita tertulis jelas dalam pembukaan UUD 1945:

” Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan.”

Menerima Israel sama halnya mengakui sikap-sikap imperialisme yang secara jelas ia tunjukkan dalam fakta sejarah.

Seperti yang kita ketahui bersama, bahwa laku-laku diskriminatif dan kekerasan masih dilakukan oleh pihak Israel terhadap bangsa Palestina.

Banyak yang menyayangkan, mengapa urusan sepak bola dikait-kaitkan sama politik. Lho, tidak bisa begitu, dong. Emang mau, misalnya, gara-gara kita tidak menolak Israel datang ke Indonesia, terus FIFA tidak jadi membatalkan kita sebagai tuan rumah, lalu dunia sepak bola kita disebut sebagai sepak bola yang pro terhadap penjajahan kaum zionis; yang lebih mengedepankan hiburan dari kemanusiaan? Sedangkan sikap melawan laku ketidakadilan dan menyuarakan perdamaian dunia dengan memberi dukungan sepenuhnya atas kemerdekaan Palestina, itu jelas tertuang dalam prinsip undang-undang dasar (UUD) 1945, tiba-tiba saja mengendur dan memudar, hanya atas dasar sepak bola? Kita tidak menganggap enteng dunia sepak bola, akan tetapi, bangsa kita saat ini haruslah tegas: Kemanusiaan di atas segalanya!

Namun uniknya, prinsip kebangsaan yang kita junjung sekian lama itu akan terkesan aneh saat berhadapan dengan orang-orang yang lupa akan sejarah dan jati diri bangsa. Maka muncul tafsir yang aneh-aneh, yang mengesankan sikap ahistoris. Kenapa tiba-tiba saja kita menjadi begitu inferior, takut jika Fifa kelak memberi sangsi yang bukan-bukan terhadap kita. Mengapa mental kita menjadi begitu kecil saat berhadapan dunia internasional, sedangkan yang kita bela adalah jelas-jelas nilai kebenaran dan kemanusiaan. Apa artinya diakui oleh asing, diakui oleh sebuah organisasi Internasional, sedangkan mental kita jadi mental tempe!

Tidak bisa bermain bola kelas dunia, ya main saja kelas RT/RW asalkan rukun, ayem-tenrem ( damai-sentosa). Tidak bisa jadi tuan rumah FIFA, nangis. Kita bukan bangsa cengeng. Sekali kita membela keadilan, tetap keadilan.

Soal Palestina itu bukan soal politik semata, namun soal kemanusiaan. Apa jadinya jika kita menjadi manusia tapi tidak merdeka, ditindas dan didiskriminasi. Sejarah panjang bangsa kita cukuplah mengambil pelajaran dari hal itu. Oleh sebab itu, Bung Karno ( sebagai Bapak Bangsa kita) dengan tegas memberikan kecaman kepada imperialisme, siapa pun, mana pun, dan dalam bentuk apa pun. Apa dasarnya? Ialah kemanusiaan.

Saya tutup tulisan ini dengan mengutip tulisan Bung Karno yang tertuang dalam buku Di Bawah Bendera Revolusi:

” Di dalam upaya kita mencari sinar matahari, hendaklah kita tidak melawan imperialisme Belanda sahaja, akan tetapi hendaklah perlawanan itu diarahkan juga pada imperialisme lain-lain yang menyurami tumpah darah kita adanya. Di dalam menentang imperialisme Inggeris dan lain sebagainya itu, maka rakyat Mesir, rakyat India, rakyat Tiongkok, dan rakyat Indonesia adalah berhadapan dengan satu musuh; mereka adalah kawan-senasib, kawan-seusaha, kawan-sebarisan.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Moderasi Beragama Berperikemanusiaan

Kopiah.Co - Di tengah globalisasi yang kian tumbuh dan realitas peradaban manusia yang hidup menjadi satu dengan mengikuti sistem...

Artikel Terkait