Renungan Kemerdekaan Menuju Kemajuan

Artikel Populer

Ahmad Hashif Ulwan
Ahmad Hashif Ulwan
Mahasiswa Universitas Az-Zaitunah

Kopiah.Co – Indonesia sebagai bangsa yang digadang-gadang menjadi negara maju dan mampu berperan aktif di kancah internasional dihadapkan dengan berbagai tantangan, seperti dinamika geopolitik, krisis lingkungan, dan lain sebagainya. Disisi lain bonus demografi yang didapatkan negara ini menjadi mata pisau ganda yang dapat menguntungkan bangsa ini dan juga bisa membunuh dirinya sendiri, ini menjadi tantangan yang mesti direnungi anak bangsa.

Presiden Jokowi dalam pidato kebangsaannya di gedung MPR/DPR menyampaikan “Momentum Presidensi Indonesia di G20, kekuatan Indonesia di ASEAN dan konsistensi Indonesia dalam menjunjung HAM kemanusiaan dan kesetaraan, serta kesuksesan Indonesia menghadapi krisis dunia 3 tahun terakhir ini telah mendongkrak dan menempatkan Indonesia kembali dalam peta percaturan dunia dan di tengah kondisi dunia yang bergolak akibat perbedaan.”

Kementerian PPN/Bappenas juga telah menyusun Rancangan Akhir Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045 untuk mewujudkan Visi Indonesia Emas 2045, dengan pendapatan per kapita Indonesia setara dengan pendapatan negara maju, visi Indonesia Emas 2045 juga menargetkan Indonesia sebagai negara yang memiliki kepemimpinan dan pengaruh yang kuat di dunia internasional, dengan kemiskinan mendekati 0 persen dan ketimpangan berkurang.

Visi ini tidak dapat ditunjang hanya dengan kuantitas demografi Indonesia, tetapi harus ditopang dengan kualitas SDM yang mumpuni untuk menyongsong visi tersebut. Menurut Presiden Jokowi, SDM Indonesia harus mumpuni secara fisik, skill, memiliki karakter produktif, dan karakter disiplin dan penguasaan iptek.

Ditambah lagi, pada tahun 2030 hingga 2040 mendatang, Indonesia akan memasuki bonus demografi, masa di mana penduduk usia produktif (15-64 tahun) akan lebih besar dibanding usia nonproduktif (65 tahun ke atas) dengan proporsi lebih dari 60% dari total jumlah penduduk Indonesia. Maka mau tidak mau pilar-pilar penunjang visi Indonesia emas 2045 adalah generasi muda hari ini.

Namun, cita-cita besar pastilah menemui badai topan yang besar pula, berbagai tantangan internal dan eksternal bangsa harus dilewati satu persatu dengan semangat gotong royong untuk mewujudkan harapan luhur tersebut. Momentum hari kemerdekaan ini adalah ajang untuk kita memperbaharui semangat kemajuan dan menjiwai spirit perjuangan kemerdekaan bangsa.

Krisis Ekologi Yang Menghantui

Sebelum berbicara tentang optimalisasi sumber daya manusia, pengembangan teknologi, ataupun pemerataan kesejahteraan, penting bagi kita menaruh perhatian lebih kepada lingkungan tempat manusia hidup dan berkembang.

Situasi ekosistem alam dan lingkungan bumi terancam oleh faktor negatif seperti perubahan iklim, kehilangan biodiversitas, polusi, dan degradasi lingkungan.


Perubahan iklim menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi umat manusia saat ini dan membutuhkan tindakan cepat dan efektif. Ilmuwan senior di Woodwell Climate Research Center Jennifer Francis mengatakan bahwa suhu dunia belakangan ini menjadi yang terpanas dalam jangka waktu selama 100 ribu tahun terakhir.

Belum lagi kualitas udara Jakarta misalnya, yang semakin hari semakin mengkhawatirkan, dikutip dari laman IQAir (16/8 pukul 06.20 WIB), US Air Quality Index (AQI US) atau indeks kualitas udara di Jakarta tercatat di angka 156.

Dengan data di atas, DKI Jakarta tercatat sebagai kota dengan kualitas udara dan polusi kota terburuk keempat dunia. Posisi pertama ditempati oleh Baghdad, Iraq dengan indeks 171, posisi kedua ditempati Doha, Qatar dengan indeks 164, dan posisi ketiga ditempati Kuching, Malaysia dengan indeks 157.

Kondisi bumi yang mengenaskan ini cukup mengkhawatirkan generasi muda, pasalnya merekalah yang akan menempati bumi dan akan menjadi pemimpin-pemimpin dunia masa depan, bagaimana jadinya jika ternyata 30 sampai 40 tahun ke depan ternyata bumi ini hancur dan manusia punah?

Penanganan dan pemulihan bumi yang sudah kadung sakit ini mestinya dikampanyekan dengan lebih masif dan ditangani dengan lebih radikal untuk mencegah kerusakan yang lebih parah. Generasi muda Indonesia harus sadar dan ikut bergerak menangani isu ini sebagai upaya perbaikan kualitas hidup kita dan anak cucu kita kelak.

Dinamika Geopolitik Hari Ini

Selain krisis lingkungan, percaturan politik dunia hari ini juga harus menjadi concern generasi muda Indonesia guna menyongsong visi tadi. Sebagai penerus estafeta kepemimpinan Indonesia, generasi muda Indonesia dituntut untuk melakukan percepatan kemajuan bangsa dalam tekanan dinamika politik dunia.

Kedamaian dunia yang sedang diusik dengan adanya perang antara Ukraina yang didukung oleh NATO dan Rusia, ketegangan Laut Tiongkok Selatan, perseteruan India Pakistan, Iran dan Arab Saudi, Taiwan dan Tiongkok, belum lagi konflik Timur Tengah yang tak kunjung usai.

Hasto Kristiyanto menyebutkan setidaknya ada lima realitas geopolitik hari ini; Pertama, dunia yang sedang mengalami era volatilitas, ketidakpastian, kompleksitas, dan ambiguitas. Kedua, realitas globalisasi yang ditengarai masifnya perkembangan sains dan teknologi yang eksponensial seperti disrupsi informasi. Ketiga, ancaman perang masa depan seperti hybrid warfare, proxy warfare, cyber warfare, dan network-centric warfare. Keempat, aliansi multipolar dan konflik regional-global. Kelima, kolonialisasi data.

Dalam bukunya, Suara Kebangsaan, Hasto menyebutkan “Dinamika geopolitik diperlukan untuk memahami keseluruhan peta aliansi pertahanan dan bagaimana Indonesia menyikapi hal tersebut.” Inilah yang menjadi penting bagi kita untuk membuka mata ke arah yang lebih luas.

Disisi lain, Indonesia merupakan negara yang dilewati oleh garis khatulistiwa, diapit oleh samudera Hindia dan samudera Pasifik, dianugerahi dengan kekayaan SDA, keindahan alam, kemajemukan penduduk, ras, dan budaya, juga memiliki histori peradaban yang menarik, semua ini menjadikan Indonesia sebagai kawasan yang strategis.

Keistimewaan yang dimiliki oleh Indonesia ini seharusnya digunakan untuk menjadi pelopor perdamaian dunia, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Bung Karno dengan terselenggaranya Konferensi Asia-Afrika pada tahun 1955 guna menyokong kemerdekaan negara negara-negara Asia dan Afrika yang masih terjajah, juga pembentukan Gerakan Non-Blok (GNB) pada tahun 1961 sebagai wadah negara non-blok untuk tidak ikut campur dan tidak menjadi objek ambisi negara adidaya untuk menguasai dunia.

Selanjutnya, kekayaan ini juga dapat menjadi nilai tukar berharga bangsa ini untuk menyejahterakan rakyat, mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara, yang pada akhirnya bermuara untuk kemajuan bangsa.

Potensi Manusia Indonesia

Kita kembali kepada sumber daya manusia Indonesia, khususnya kawula muda Indonesia yang akan melanjutkan perjuangan bangsa. Tidak cukup dengan kesadaran pemuda terhadap lingkungan, dan realitas geopolitik hari ini, kemajuan Indonesia juga mesti ditopang oleh kualitas SDM Indonesia yang mumpuni.

Penanaman tradisi yang diajarkan turun temurun dari leluhur kita menjadi fondasi utama untuk membentuk kualitas manusia Indonesia yang berbudi pekerti luhur, ditambah dengan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai kalimatun sawa yang mempersatukan Indonesia dalam sebuah bingkai kenegaraan dan kebangsaan yang harmonis.

Kekuatan budi pekerti luhur dan persatuan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia merupakan ‘Curigo‘ Indonesia untuk mengarungi kehidupan bernegara. Penanaman budi pekerti dan spirit persatuan ini mesti menjadi akar setiap manusia Indonesia, pendidikan yang berkebudayaan dengan budaya khas Indonesia juga mesti menjadi ruh pendidikan, karena dua spirit inilah yang akan mengawali segala lini kemajuan bangsa.

Selanjutnya karakter tersebut dibekali dengan ilmu pengetahuan yang mendalam dan wawasan luas guna menghasilkan daya juang yang tinggi. Dengan begitu, pengembangan sains dan teknologi bangsa Indonesia menjadi bermoral dan mempunyai ciri khasnya sendiri.


Dalam rangka memajukan bangsa, rasanya kita juga perlu melakukan Revolusi Mental, sebagai sebuah reformasi jiwa ke arah yang lebih positif dan progresif. Sebagaimana yang dikatakan Bung Karno dalam pidatonya “Praktik revolusi mental adalah menjadi manusia yang berintegritas, mau bekerja keras, dan punya semangat gotong royong. Gerakan untuk menggembleng manusia Indonesia agar menjadi manusia baru yang berhati putih, berkemauan baja, bersemangat elang rajawali, berjiwa api yang menyala-nyala”

Dengan karakter yang berbudi pekerti luhur, pengetahuan bermoral dan jiwa yang tangguh, masyarakat Indonesia akan dengan sendirinya membentuk lingkungan yang sehat, sehat secara politik, sehat secara sosial, dan sehat secara ekonomi.

Cita-cita kemajuan bukanlah suatu angan-angan atau harapan tanpa langkah nyata, visi ini harus dimulai dari masing-masing individu, dan menjamur menjadi gerakan bersama rakyat Indonesia.

Pada akhirnya, dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Indonesia yang ke-78 ini, hendaknya menjadi ajang perenungan bersama untuk sadar merawat bumi Indonesia, berwawasan global, dan mengoptimalkan seluruh potensi kita sebagai manusia Indonesia guna menopang cita-cita bersama, menjadikan Indonesia sebagai bumi yang ‘Gemah Ripah Loh Jinawi, Toto Tentrem Kerto Raharjo’ dan mampu menunjukkan taringnya di kancah dunia.

Dirgahayu ke-78 Republik Indonesia. Merdeka !

4 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Muslim Progresif : Paradigma Berpikir Omid Safi Tentang Keadilan, Gender dan Pluralisme

Oleh : Muhammad Sheva Maulaya Zuhdi, Mahasiswa Indonesia di Universitas Zaitunah Kairouan Tunisia Kopiah.Co — Di era modern yang semakin...

Artikel Terkait