Yuk, Gunakan Akal Kita

Artikel Populer

Muhammad Fawaid Zuhri
Muhammad Fawaid Zuhri
Mahasiswa Universitas Al-Azhar Mesir | Anggota Lazisnu PCINU Mesir

Kopiah.coKehidupan adalah anugerah tuhan kepada semesta. Banyak hal di dalamnya memerlukan penelaahan secara rasional. Sebab akal menjadi pembeda antara manusia dengan makhluk lainnya. 

Maka kita perlu menggunakannya dengan semaksimal mungkin selama akal masih bisa berfungsi dengan baik. Sebenarnya tidak ada akal yang tidak berfungsi –meskipun akalnya arang gila yang tidak dikena khithab dalam agama, tetapi dia masih menggunakannya dengan dunianya sendiri- akan tetapi kita malas menggunakannya dalam kehidupan.

Akal dalam madzhab Muktazilah memegang keurgensiannya tersendiri di dalam memecahkan problematika agama. Dia dianggap sebagai rujukan otoritatif melebihi analogi (qiyas) yang digagas oleh Imam Syafi’i, bahkan melebihi kebenaran absolut. Yaitu, al-Quran.

Dalam hierarki epistemologi Muktazilah, akal menempati urutan pertama di atas al-Quran, hadits, qiyas, dan ijma’. Dengan persepsi bahwa dengan akal manusia bisa mengetahui al-Quran dan hadits adalah pedoman hidup,  membedakan baik dan buruk.

Urutan madzhab Muktazilah menyalahi konsep hierarki yang dianut oleh madzhab lain. Akan tetapi, apabila kita telaah lagi, di sana terdapat kebenaran juga. Karena ketika nabi Muhammad menerima titah kenabian pertama kali di gua Hira’, beliau oleh Malaikat jJibril diperintah untuk membaca ayat yang berbunyi iqra’ sampai berulang tiga kali. Akan tetapi beliau mengatakan, “saya tidak bisa membaca”.

Disaat yang bersaman ketika Nabi Muhammad mengatakan “saya tidak bisa membaca” terdapat peran akal yang mendorong untuk mengatakan saya tidak bisa kepada Malaikat Jibril, dan akhirnya Nabi bisa membacanya, sehingga beliau paham bahwa apa yang diperintah Jibril merupakan kitab suci yang diturunkan kepadanya.

Akan tetapi, orang-orang sekarang banyak yang anti menggunakan akal dalam menjalani kehidupannya. Dalam artian mereka tidak berpikir jernih dan komprehensif dalam menyelesaikan suatu masalah, sehingga berdampak terhadap tuduhan-tuduhan yang tidak berdasar bahkan membabi buta dalam menghakimi, karena terdorong rasa paling benar.

Tuduhan sesat dan kafir terhadap orang yang tidak sejalan dengan argumen akalnya, seolah-olah orang lain harus ikut golonganya. Ini yang harus kita perbaiki ke depannya  apa yang ada dalam diri kita.

Siapa tau pendapat orang lain tidak cocok dengan kita karena kita kurang banyak baca. Karena bisa jadi orang yang salah dimata kita menjadi benar kalau ditelaah dari ilmu yang lain.

Maka, perlu untuk memperkaya wawasan pengetahuan dengan memperbanyak membaca. Setelah itu kita bisa mencampuri urusan orang lain dan berpendapat tentangnya.

Di zaman sekarang peran akal diperlukan, karena dilumuri dengan hal-hal yang sudah absurd dan kita dipaksa untuk menerima derasnya informasi dari belahan dunia, yang semuanya tidak mungkin kita ambil mentah saja.

Akan tetapi harus ada telaah yang lebih universal dan holistik.  Selain itu, yang tak kalah penting juga untuk saya ungkapkan adalah tentang moral yang makin lama makin ditinggalakan oleh manusia, demi memperoleh kesenangan duniawi. Dari situlah banyak orang  mengatakan, bahwa zaman ini adalah zaman yang amoral.

Sepertinya ada sistem untuk mejadikan generasi masa depan, untuk bertingkah laku secara amoral dan tidak memikirkan apa yang terjadi setelah kehidupan yang serba imajinatif.

Menurut Ibnu Arabi dunia ini adalah penjelmaan dari Tuhan atau bukti adanya Tuhan. Dia menyiapkan segalanya untuk menjadi bekal kelak di akhirat.  Namun, kebanyakan tidak percaya terhadap kehidupan ukhrawi, mereka memilih untuk hidup hedonis.

Menurut saya, ini merupakan suatu keterbatasan berpikir sosial, yang perlu dipelajari kembali. Akal yang sudah ada dalam kepala kita kurang digunakan untuk berpikir. I

nilah jadinya kalau kita tidak menggunakan akal kita secara jernih, kita akan menjadi makhluk Tuhan yang tak nurut, yang terus membantah Tuhannya dan tidak mau mengalah ketika disuruh bersujud kepada Nabi Adam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Ambisi Putin Merengkuh Mitos Sejarah

Beragam sanksi dan ancaman bertubi-tubi datang kepada Rusia, namun tidak ada iktikad baik dari Putin untuk mengakhiri invasi militernya...

Artikel Terkait