Epos Las Mariposa Mencapai Keadilan di Dominika

Artikel Populer

Kunti Zulva Russdiana Dewi
Kunti Zulva Russdiana Dewi
Mahasiswa Universitas Al-Azhar Mesir | Redaktur Ahli Bedug Media | Fatayat Study Club Mesir | Anggota kajian di Sekolah Tinggi Filsafat Girinata | Anggota kajian Salon Budaya PCINU Mesir

Selama 16 hari mendatang, sejak 25 November hingga 10 Desember, para aktivis gender di seluruh dunia ramai menggaungkan sinergitas melawan kekerasan. Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (HAKTP) diperingati sebagai simbol terbunuhnya “Las Mariposa” sebutan untuk Mirabal bersaudari, yakni Patria, Minerva, dan Maria Teresa. Ketiganya adalah perempuan yang dibunuh oleh penguasa diktator Rafael Trujillo penguasa Republik Dominika.

Sebagai perempuan kelas menengah ke atas, baik sebagai istri dan ibu, Mirabal bersaudari tak tampak seperti sosok revolusioner pada umunya. Pergerakannya melucuti korupsi pemerintahan Trujillo melalui gerakan bawah tanah bersama militansi akar rumput lainnya, membuat pergerakannya banyak didengar oleh masyarakat kalangan bawah.

Pergerakannya melawan kediktatoran Trujillo dapat dibaca melalui teori an-Naf’iyah. Las Mariposa adalah simbol perempuan berkarakter, khas, dan menjunjung kebebasan warga negara untuk keadilan moral bangsa dan sistem negara. Adalah gerakan epos di abad-19 yang digaungkan oleh perempuan saat itu. Sebagaimana kita tahu, suara perempuan menjadi polemik serius di eranya. Lantas mengapa ketiganya memiliki karakter khas teori an-Naf’iyah?

Begini, an-Nafiyah memiliki karakter bahwa sebuah kebenaran dinilai dari sejauh mana tindakan itu memiliki kontribusi yang luas, dalam hal ini masyarakat. Seperti meningkatkan kebahagiaan untuk mengurangi kesengsaraan masyarakat. Terlepas, apakah capaian kebahagiaan ini disandarkan pada nilai, moral, agama, hingga aturan pemerintah. Dengan begitu, ruang kebahagiaan ini berangkat dari kebahagiaan individu, yang nantinya akan meluber, meluas sehingga menjadi sumber kebahagiaan yang lain. Menjadi sebuah kebahagiaan umum. Maka setiap orang diarahkan untuk dapat menyentuh dan merasakan kebahagiaan umum ini.

Apa yang diupayakan Las Mariposa dalam gerakannya adalah demikian. Pasalnya, Kediktatoran di bawah kuasa Trujillo yang berhasil berkuasa di tahun 1930 telah menyengsarakan banyak masyarakatnya. Hak kehidupan mereka dirampas, gerak ekonomi dan perpolitikan dibatasi. Trujillo mengambil alih seluruh sistem perekonomian negara. Produksi bahan pokok pangan hanya dapat diakses oleh kelompok pendukung dan keluarganya sendiri. Menurut Ellizabeth Manley penulis The Paradox of Paternalism: Women and Authoritarian Politics in The Dominican Republic, “Ada sebuah bahaya yang sangat besar selama periode Trujillo, orang-orang dilenyapkan, dipenjara, hingga dibunuh secara masal, termasuk para Mariposa ini.”

Membaca hal ini, Las Mariposa bersama masyarakat Dominika menyadari mereka tak menemukan arah kebahagiannya sebagai warga negara, berupa kesehatan ekonomi. Gerakannya untuk menggulingkan Trujillo dan antek-anteknya adalah upaya tersulit yang dilakukan oleh perempuan saat itu. Aspirasi politik perempuan, menjadi gerakan yang tegang antara pemerintah dan masyarakat. Untungnya, Las Mariposa adalah keluarga yang cukup terpandang sebagai keluarga pebisnis anggur. Strata sosial dan gender menjadi pemahaman serius di tengah revolusi Republik Dominika. Sehingga, upaya yang banyak didengar masyarakat, mulai tercium oleh Trujillo.

Mengingat itu semua, keluarga Mirabal menjadi bahan pertimbangan Trujillo agar tak membunuhnya secara terang-terangan. Menjelang kematiannya, di perjalanan pulang menuju rumah dari penjara Puerto Plata usai menyambangi suami mereka yang tengah di penjara, sekelompok orang tak dikenal menghentikan mereka di tengah jalan. Rufino de la Cruz, supir dari keluarga tersebut ikut dicekik dan dipukuli hingga tewas. Keempat mayatnya kemudian dimasukkan ke dalam mobil dan mendorongnya ke tepi jurang. Antek Trujillo membuat skenario agar keempatnya didapati sebagai kejadian kecelakaan. Kematiannya membuat masyarakat marah, hingga akhirnya Trujillo dan antek-anteknya berhasil digulingkan.

Las Mariposa telah menunjukkan bahwa arah kebahagiaan pribadi dapat menghantarkan pada kebahagiaan umum. Untuk itu, Las Mariposa dapat mengarahkan wacana pengetahuan agar masyarakat semua mencapai hak-haknya sebagai warga negara. Ada dua karakter dalam gerakannya untuk mencapai keadilan masyarakat Dominika. Pertama, Las Mariposa berhasil membuat sistem pemerintahan menjadi sebuah hukum negara yang adil, demokrasi dengan penggulingan Trujillo melalui gerakan bawah tanah. Dengan begitu, Las Mariposa berhasil mengendalikan suara publik.

Dalam hal ini opini publik menjadi standar nilai keadilan untuk menyadari adanya kesengsaraan masyarakat dari otoritas Trujillo. Melalui suara dan aspirasi masyarakat secara langsung dan terbukaTrujillo mendapatkan hukuman kudeta karena telah bertentangan dengan akses kebahagiaan masyarakat. Dalam hal ini adalah sistem ekonomi Republik Dominika.

Kedua, kepentingan pribadi keluarga Las Mariposa sebagai keluarga dari kalangan pebisnis agar keluarganya tak bangkrut. Meski pendapatannya ia salurkan untuk instansi pendiidkan, sekolah serta panti asuhan yang ia beri sumbangan, dengan begitu, mereka sekaligus ikut memikirkan bagaimana nasib orang-orang yang tidak seberuntung ia dalam taraf ekonominya. ‘Kepentingan pribadi yang tercerahkan’ dapat menghantarkan kepada khalayak bahwa kebaikan menuju kebahagiaan bersama adalah dengan sama-sama melibatkan ‘kepentingan pribadi yang tercerahkan’, dalam kasus Trujillo adalah hak-hak warga negaranya untuk dapat menikmati hasil gerak perekonomian negara dan aspirasi masyarakat dalam kebijakan pemerintah Dominika.

Dari keduanya, Las Mariposa digambarkan bahwa utilitas gerakannya terbatas pada hal-hal materialis. Maka dalam Islam, konsep an-Nafiyah adalah sesuatu yang tidak hanya terbatas pada pencapaian atau pemuasan materi. Fakta konkretnya adalah keadilan, karakter non-materi yang bisa menciptakan sebuah kebahagiaan umum. Seperti halnya syariat yang memberikan bentuk alternatif kebahagiaan, seperti amar ma’ruf nahi munkar menjadi sebuah upaya konkret bahwa puncak kebahagiaan manusia dapat melalui penghayatan dan pencapaian keadilan itu sendiri.

Dengan demikian, meskipun upaya Las Mariposa adalah sosok utilitarianisme materialis, namun sosoknya bisa menghantarkan keadilan masyarakat Dominika pada puncak kebahagiaan. Maka di Indonesia yang memiliki cara beragama yang beragam, kemajemukan di mana-mana, mencapai kebahagiaan umum bukan sebuah kemustahilan. kehadiran Pancasila dan pedoman agama telah lama menghayati kesadaran keadilan sebagai puncak kebahagiaan masyarakat Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Semarakkan Peringatan Satu Abad NU, Nahdliyyin di Tunisia Ngaji Kitab Mukaddimah Ibnu Khaldun

Kopiah.Co — Dalam rangka menyemarakkan satu abad Nahdlatul Ulama, warga NU (Nahdliyyin) di Tunisia ngaji kitab Mukaddimah Ibnu Khaldun....

Artikel Terkait