Bung Karno dan Kemanusiaan-Universal

Artikel Populer

www.kopiah.co — “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”, itulah isi dari Pembukaan UUD 1945 yang harus senantiasa menjadi pijakkan bagi warga Indonesia dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara. Pesan ini lahir dari buah pemikiran para pendiri bangsa yang sejatinya merupakan pesan luhur, yang maknanya harus kita hidupkan di berbagai ruang dan waktu.

Jika kita melihat lebih dalam, pesan yang disampaikan dalam Pembukaan UUD tersebut merupakan ruh dari ajaran agama. Bahwasanya agama hadir di muka bumi untuk membawa ketertiban dunia dan membangun kemaslahatan di tengah masyarakat seperti yang disampaikan Ibnu Asyur dalam Ushul al-Nizham al-Ijtima’i fi al-Islam. Perdamaian, keadilan, dan kebebasan menjadi pilar utama agama dalam membangun peradaban yang berperikemanusiaan.

Hubungan antara pesan keagamaan dan pesan kebangsaan yang saling terikat di atas merupakan bukti nyata bahwa misi para pendiri bangsa Indonesia dalam membangun peradaban dunia adalah tak lain dan tak bukan, misi kemanusiaan. Segenap bangsa Indonesia, kini, maupun esok hari harus tetap berada dalam jalur perjuangannya, yaitu mewujudkan keadilan, kesejahteraan dan perdamaian.

Jauh sebelum Indonesia merdeka, sesungguhnya Bung Karno, Sang Proklamator, dalam tulisannya tentang “Indonesianisme dan Pan-Asiatisme” yang diterbitkan oleh Suluh Indonesia Muda tahun 1928 telah menegaskan bahwa bangsa Indonesia harus berdiri paling depan dalam menentang ketidakadilan dan imperialisme. Segala perilaku yang menodai nilai-nilai kemanusiaan harus dijadikan sebagai musuh bersama.

Apa yang disampaikan oleh Bung Karno di Suluh Muda Indonesia di atas terjadi ketika saat itu negara-negara di Asia sedang berada dalam kepungan imperialisme Barat. Menurut Soekarno, bangsa Indonesia tidak boleh memikirkan negerinya sendiri, tetapi juga harus memikirkan bangsa lain yang sama-sama sedang berada di bawah penjajahan, termasuk negara-negara sahabat di kawasan Asia. Karena nasionalisme yang dibangun oleh bangsa Indonesia bukanlah nasionalisme yang sempit, yang hanya memikirkan dirinya sendiri, melainkan nasionalisme yang maknanya luas, yang menolak segala bentuk penjajahan dan penindasan kepada siapa pun, di mana pun.

Bagi Bung Karno, segala penderitaan yang dirasakan orang lain, seharusnya menjadi penderitaan kita juga. Dengan sikap seperti ini, kita sebagai umat manusia telah menjalankan misi paripurna dalam hidup yaitu kemanusiaan. Bung Karno memposisikan bangsa Indonesia dengan bangsa lain menjadi satu tubuh. Jika satu bagian tubuh sakit, maka sakitlah seluruhnya. Hal ini pun senada dengan apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad Saw. dalam hadisnya.

“Maka kita, kaum pergerakan Indonesia, harus mengulurkan tangan kita ke arah saudara-saudara kita bangsa Asia yang lain-lain. Itulah sebabnya maka kita harus berdiri di atas azas Pan-Asiatisme. Imperliasme Inggris (misalnya) adalah musuh Mesir; ia adalah musuh India; ia adalah pula musuh Tiongkok; tetapi ia adalah musuh kita juga!”, ungkap Bung Karno dalam Indonesianisme dan Pan-Asiatisme, Suluh Muda Indonesia 1928.

Dari ungkapan tersebut, kita bisa menyimpulkan bahwa Bung Karno menentang segala bentuk imperialisme yang mencederai nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan. Dalam hal ini, di masa itu negara-negara di Asia memang hampir seluruhnya berada dalam kepungan imperialisme Barat. Maka, Bung Karno menyeru bangsa Indonesia agar sama-sama menjadikan imperialisme dan penjajahan itu sebagai musuh bersama. Sikap Pan-Asiatisme yang dibangun oleh Bung Karno saat itu lahir sebagai wujud solidaritas terhadap negara-negara Asia yang sama-sama sedang menderita.

Kita juga bisa melihat bahwa yang dilawan oleh Bung Karno adalah bukan Baratnya, melainkan imperialisme yang dilakukan oleh Barat terhadap negara-negara Asia. Sehingga menurut Bung Karno, bukan hanya imperialisme Belanda yang harus ditentang, melainkan juga Inggris, dan negara manapun yang melakukan penjajahan, tidak bisa dibenarkan. Sebab itu, bangsa Indonesia harus memainkan peran penting dalam mewujudkan keadilan, bukan hanya di level nasional, tetapi juga di level internasional.

Sikap yang dilakukan oleh Bung Karno ini menjadi warisan Indonesia dalam berperan di level global. Misalnya, dalam konteks saat ini, yaitu perang Rusia-Ukraina. Sebagaimana yang diwariskan Bung Karno, Indonesia harus berdiri paling depan dalam menentang penjajahan dan ketidakadilan. Oleh karena itu, bukan berpihak pada salah satu dari dua negara yang sedang berperang, melainkan Indonesia berpihak pada perdamaian dan kesejahteraan umat manusia di seluruh dunia yang harus ditegakkan.

Sebab itu, kunjungan Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo ke Ukraina dan Rusia merupakan langkah yang tepat sebagaimana yang diharapkan oleh Bung Karno. Dalam kunjungannya ke Ukraina dan Rusia, Presiden Joko Widodo membawa misi perdamaian dan kesejahteraan masyarakat dunia. Ia menginginkan perang segera dihentikan dan kebutuhan masyarakat dunia pun tidak terhambat. Hal inilah yang diamanahkan oleh Bung Karno dan para pendiri bangsa.

Visi dan komitmen Bung Karno juga diperkuat kembali ketika ia menggelae KTT Asia-Afrika pada tahun 1955 di Bandung. Pada perhelatan tersebut, Bung Karno menegaskan bahwa bangsa Indonesia berdiri paling depan menentang segala bentuk penjajahan. Peran aktif bung Karno dalam membantu kemerdekaan negara-negara di Afrika tersebut merupakan visi kemerdekaan yang menginspirasi, karena meniscayakan kemerdekaan adalah hak segala bangsa.

Spirit menjunjung tinggi kemanusiaan universal yang dihidupkan oleh Bung Karno tersebut harus kita gemakan lagi dalam kehidupan dewasa ini. Karena di era globalisasi dan media sosial saat ini, kehidupan umat manusia tidak lagi terbatas oleh batas-batas negara. Tetapi sudah menjadi warga negara global yang dihubungkan oleh teknologi modern. Maka, sikap saling menghargai, kasih sayang, persahabatan, kolaborasi antar sesama manusia harus menjadi pilar-pilar penting yang harus dihidupkan.

Dalam Al-Quran surat al-Hujurot ayat 13, Allah Swt. berfirman, “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa“. Ayat ini harus menjadi pijakkan bagi kita bahwa seyogianya kita memandang orang lain dengan semangat persamaan derajat.

Oleh karena itu, jelas-jelaslah bahwa pesan-pesan kemanusiaan-universal yang menjadi misi utama Bung Karno itu seharusnya menjadi misi kita juga dalam membangun peradaban dunia yang berperikemanusiaan. Sikap ini juga menjadi pijakkan bangsa Indonesia dalam memainkan peran penting di level global. Kemanusiaan (humanity) seyogianya menjadi nilai yang harus diletakkan paling atas dalam kehidupan bermasyarakat. Kemanusiaan-universal inilah yang dicita-citakan oleh Bung Karno dan juga harus menjadi jalan yang kita tempuh dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Tafsir Saintifik; Upaya Baru Mengkaji Kandungan Al-Quran

Kopiah.co - Manusia sebagai makhluk yang berakal tidak pernah mengenal puas dalam mendayagunakan pikirannya untuk memperoleh pengetahuan. Seiring berjalannya...

Artikel Terkait