Kemerdekaan Universal Bung Karno

Artikel Populer

www.kopiah.co — Pada perayaan tujuh puluh tujuh tahun Indonesia merdeka, pemerintah Indonesia mengangkat tema besar, “Pulih Lebih Cepat, Bangkit Lebih Kuat”. Slogan ini lahir setelah dua tahun lebih bangsa Indonesia berjuang menghadapi pandemi Covid-19. Pun, tema tersebut mencerminkan rasa optimis bangsa Indonesia dalam melewati tantangan global yang sesungguhnya terus menanti di depan. 

Sebagaimana yang disampaikan oleh Presiden Jokowi dalam pidatonya di Sidang Tahunan MPR/DPR 2022 bahwa krisis kesehatan akibat pandemi belum sepenuhnya pulih. Bangsa Indonesia harus terus waspada, saling bahu membahu, dan gotong-royong agar kondisi kesehatan dapat pulih lebih cepat, dan ekonomi bangkit lebih kuat. 

Walaupun demikian, Indonesia merupakan negara yang berhasil karena kemampuannya mengendalikan pandemi Covid-19. Bahkan, termasuk lima besar negara dengan vaksinasi terbanyak di dunia. Hal ini menunjukkan bahwa bangsa Indonesia merupakan bangsa yang tangguh dan mampu bersinergi dalam menghadapi tantangan global. Karakter inilah yang harus dimiliki oleh semua elemen bangsa, lebih-lebih pada tahun ini Indonesia menjadi tuan rumah perhelatan G20. 

Kondisi di atas pun menunjukkan bahwa meskipun sudah tujuh puluh tujuh tahun Indonesia merdeka, bukan berarti perjuangan telah usai. Hal ini juga mengingatkan kita kepada pesan Bung Karno yang ia sampaikan pada pidato 1 Juni 1945 bahwa kemerdekaan bukanlah akhir dari perjuangan, tetapi perjuangan negara-bangsa harus terus dilakukan demi menghadapi tantangan-tantangan baru yang menghampiri di tengah perkembangan zaman.  

“Jangan mengira bahwa dengan berdirinya negara Indonesia Merdeka itu perjoangan kita telah berakhir.Tidak! Bahkan saya berkata: Di dalam Indonesia Merdeka itu perjoangan kita harus berjalan terus, hanya lain sifatnya dengan perjoangan sekarang, lain coraknya” ucap Bung Karno. Ia menambahkan, “Nanti kita, bersama-sama, sebagai bangsa yang bersatu padu, berjoang terus menyelenggarakan apa yang kita cita-citakan di dalam Panca Sila”. 

Pernyataan Bung Karno tersebut menegaskan bahwa kemerdekaan politik dari penjajahan bukanlah akhir dari kebebasan, tetapi juga masih ada kebebasan hak positif yang harus terus diperjuangkan yaitu, mengembangkan, memberdayakan, serta meningkatkan kualitas diri sebuah bangsa demi mencapai kemajuan dan kesejahteraan.

Selain itu, dalam perjalanan menuju kemajuan, keluhuran, dan kesejahteraan, bangsa Indonesia juga harus fokus terhadap apa yang dicita-citakan di dalam Pancasila. Bung Karno telah menyusun Pancasila sejak puluhan tahun sebelum Indonesia merdeka sebagai pandangan dunia bangsa Indonesia dan jalan yang harus kita tempuh dalam perjuangan bersama. 

Kemerdekaan Universal

Sejak pra-kemerdekaan, dalam Suluh Indonesia Muda tahun 1928, Bung Karno senantiasa menyampaikan bahwa bangsa Indonesia harus berdiri paling depan dalam menentang ketidakadilan, kolonialisme dan imperialisme. Ia juga menegaskan bahwa segala perilaku yang menodai nilai-nilai kemanusiaan harus dijadikan sebagai musuh bersama. 

Menurut Bung Karno, bangsa Indonesia tidak boleh memikirkan negerinya sendiri, tetapi juga harus memikirkan dan peduli terhadap bangsa lain. Karena sesungguhnya nasionalisme yang dibangun oleh bangsa Indonesia bukanlah nasionalisme yang sempit, yang hanya memikirkan dirinya sendiri, melainkan nasionalisme yang memiliki makna luas, yang memikirkan kemaslahatan masyarakat dunia, menolak segala bentuk penjajahan dan penindasan, di mana pun, kepada siapa pun. 

Sebab itu, dalam Pembukaan UUD 1945 disebutkan, “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”. Prinsip inilah yang senantiasa menjadi spirit yang dihidupkan oleh Bung Karno dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara. 

Maka itu, pada tahun 1955, sepuluh tahun setelah Indonesia merdeka, Bung Karno menggelar Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Afrika untuk memperjuangan hak kemerdekaan bagi negara-negara yang masih terjajah. Bagi Bung Karno, segala penderitaan yang dirasakan oleh orang lain, seharusnya menjadi penderitaan kita juga. Dengan sikap seperti ini, kita sebagai umat manusia telah menjalankan misi paripurna dalam hidup yaitu menjunjung tinggi harkat dan martabat umat manusia. 

Pada KTT Asia-Afrika tahun 1955, di depan bangsa-bangsa dunia, Bung Karno menyampaikan pesan, “Dan saya minta kepada Tuan-Tuan, janganlah hendaknya melihat kolonialisme dalam bentuk klasiknya saja, seperti yang kita di Indonesia dan saudara-saudara kita di berbagai wilayah Asia-Afrika mengenalnya. Kolonialisme mempunyai juga baju modern, dalam bentuk penguasaan ekonomi, penguasaan intelektual, penguasaan materil yang nyata, dilakukan oleh sekumpulan kecil orang-orang asing di tengah-tengah rakyat… Di mana, bilamana, dan bagaimanapun ia muncul, kolonialisme adalah hal yang jahat, yang harus dilenyapkan di muka bumi”. 

Salah satu negara yang merdeka pasca perhelatan KTT Asia-Afrika adalah Tunisia. Kemerdekaan Tunisia dari Perancis tidak bisa dilepaskan dari peran Bung Karno dan Indonesia. Dimulai sejak tahun 1951, Bung Karno menerima para pejuang kemerdekaan Tunisia di Jakarta, salah satunya adalah Habib Bourguiba, Presiden pertama Tunisia. Lalu pada tahun 1952, Tunisia membuka kantor persiapan kemerdekaan Tunisia di Jakarta. Sehingga puncaknya pada tahun 1955, setelah KTT Asia-Afrika di Bandung, satu tahun kemudian Tunisia merdeka, tepatnya pada tahun 1956. 

Melalui peran Bung Karno dalam menghapuskan penjajahan dan mewujudkan kemerdekaan masyarakat dunia di atas, secara tersirat ia berpesan kepada kita, bangsa Indonesia agar dapat berperan dan terlibat dalam mewujudkan kepentingan nasional dan kemanusiaan universal. Negara-bangsa di dunia harus berdiri bersama, dengan spirit yang sama yaitu mewujudkan rumah kemanusiaan yang berkeadilan dan berkeadaban bagi masyarakat global. 

Sebab itu, kunjungan Presiden Jokowi ke Ukraina dan Rusia beberapa bulan lalu merupakan terjemahan luas yang lahir dari rahim pemikiran para pendiri bangsa, bahwasanya Indonesia harus berdiri paling depan menjunjung tinggi kemanusiaan dan mewujudkan perdamaian dunia. Pun, Indonesia akan terus berdiri untuk Palestina selama kemerdekaan belum mereka dapatkan.

Prinsip dan komitmen Bung Karno terhadap kemanusiaan juga menyadarkan kita bahwa setiap manusia, di mana pun berada, apapun kewarganegaraannya, wajib dilindungi harkat martabatnya ; baik hak sipil dan politik maupun hak ekonomi, sosial, dan budaya. Prinsip tersebut senada dengan prinsip-prinsip dasar Agama yang sejatinya menjaga dan melindungi hak-hak setiap umat manusia. 

Di dalam agama kita mengenal maqasid al-syari’ah, segala hal yang diperintahkan dan dilarang oleh Tuhan, terdapat tujuan utama di dalamnya. Di antara tujuan tersebut ada yang disebut dengan tujuan universal (maqasid al-‘ammah), yang oleh Imam al-Syatibi disebut sebagai kulliyat al-khamsah (lima prinsip dasar agama) yaitu ; hak perlindungan atas agama (hifzh al-din), hak perlindungan atas jiwa (hifz al-nafs), hak perlindungan atas akal (hifz al-‘aql), hak perlindungan atas keturunan (hifzh al-nasl) dan hak perlindungan atas harta (hifzh al-mal). 

Kelima prinsip agama di atas menjadi pegangan kokoh Bung Karno dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebab itu, setiap negara-bangsa dewasa ini harus meneruskan semangat kemanusiaan yang sama. Sehingga keadilan dan kesejahteraan dapat benar-benar terwujud di muka bumi ini. Pun, sesungguhnya terwujudnya keadilan dan kesejahteraan adalah bukti paling nyata idealitas Pancasila. 

Dalam pidato 1 Juni 1945 Bung Karno menegaskan, “Kemerdekaan merupakan jembatan emas menuju kesejahteraan”. Maknanya, kemerdekaan merupakan jembatan emas untuk mewujudkan cita-cita para pendiri bangsa, dan tentu kita semua, bangsa Indonesia. Pesan emas Bung Karno ini harus kita sambut dengan partisipasi dan kontribusi kita dalam mengembangkan kesejahteraan.

Mindset Bangsa Indonesia 

Pada Hari Ulang Tahun (HUT) ke-77 ini Indonesia sedang menjadi tuan rumah G20. Melalui forum ini, tidak hanya memperjuangkan kepentingan nasional, Indonesia juga dapat menjadi suara dari negara berkembang yang berkontribusi bagi penyelesaian berbagai permasalahan ekonomi atau tantangan yang dihadapi dunia. 

Namun, untuk mewujudkan cita-cita mulia di atas harus diikuti juga oleh jiwa-jiwa merdeka seluruh bangsa Indonesia. Dengan spirit gotong-royong, persatuan, dan optimisme, langkah-langkah dalam melakukan pemulihan dari krisis kesehatan dan krisis ekonomi global dapat terlaksana dengan cepat. 

Sebagaimana perjuangan kemerdekaan yang dilakukan oleh para pejuang dan founding fathers Indonesia, tantangan Indonesia dan dunia saat ini harus juga dihadapi bersama. Setiap kita, masyarakat, tokoh agama, tokoh publik, maupun pejabat negara harus saling bahu membahu, bergotong royong melakukan kerja-kerja kebaikan untuk pembangunan berkelanjutan Indonesia dan dunia.

Bung Karno menegaskan, “.. Djiwa besar adalah djiwa jang berani menerkam segala kesulitan-kesulitan. Djiwa besar adalah djiwa jang mempunjai tjipta besar.” Ucapan Bung Karno di atas melukiskan tentang usaha merealisasikan visi dan misi kemerdekaan perlu dilakukan oleh jiwa besar, rasa optimis, dan semangat juang yang tinggi. 

“..Siapa yang ingin memiliki mutiara, harus ulet menahan-nahan napas dan berani terjun menyelami samudra yang sedalam-dalamnya”, tegas Bung Karno. Pesan-pesan tersebut menjadi pijakkan bagi seluruh bangsa Indonesia agar memiliki keberanian, kesungguhan, dan kekuatan mindset yang membawa pada optimistis, bahwa bangsa Indonesia mampu mewujudkan cita-cita negara-bangsa, cita-cita Pancasila.  

Bangsa Indonesia bersyukur memiliki Bung Karno, seorang pemikir dan pendiri bangsa yang telah memberikan inspirasi. Pemikiran dan peran-peran besar yang telah ia lakukan dalam membangun Indonesia patut kita ikuti. Bung Karno telah mengabdikan jiwa dan raganya untuk kepentingan nasional dan kemanusiaan universal. Tak diragukan lagi, bahwa kualitas manusia yang membawa manfaat kepada banyak orang itulah yang sesungguhnya termasuk ke dalam kategori sebaik-sebaik manusia. 

Oleh karena itu, untuk mengisi kemerdekaan Indonesia yang akan menjelang satu abad ini, seyogianya bangsa Indonesia menghidupkan kembali spirit Bung Karno, sehingga dapat meneruskan perjuangan para pendiri bangsa dalam mewujudkan cita-cita Pancasila. Karena sesungguhnya prinsip kemanusiaan dan kemerdekaan universal ala Bung Karno yang telah disampaikan di atas merupakan watak sejati manusia yang harus dihidupkan dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Tafsir Saintifik; Upaya Baru Mengkaji Kandungan Al-Quran

Kopiah.co - Manusia sebagai makhluk yang berakal tidak pernah mengenal puas dalam mendayagunakan pikirannya untuk memperoleh pengetahuan. Seiring berjalannya...

Artikel Terkait