Perayaan Hanukkah Di tengah Krisis Kemanusiaan

Artikel Populer

Oleh : Rabbi Amanda Gelender, Aktivis Jewish Voice for Peace / Umat Nabi Musa A.S


Kopiah.co — Pada setiap penghujung dan awal tahun, umat Yahudi yang mengisi 0.2% populasi dunia dan masih termasuk ke dalam bagian agama samawi bersama Nasrani dan Islam akan merayakan Hanukkah (juga dieja Chanukah). Perayaan ini setara Deepavali-nya saudara-saudari kita yang beragama Hindu terutama dari dataran India khususnya wilayah Tamil yang bertaburkan cahaya.

Begitu juga dengan perayaan selama delapan hari untuk memperingati kembalinya bait suci kedua di Yerussalem pada masa pemberontakan makabe melawan kekuasaan Seleukia pada abad ke-2 SM. Kisah Hanukkah berserta sembilan lilin yang menyala di sembilan tangkai menorah (lambang suci yudaisme) merupakan kisah keajaiban akan kuasa Tuhan Ibrahim, Ishak, dan Yakub.

Alkisah pada saat direbutnya kembali umpan suci kedua, kaum Makabe membersihkan tempat itu dari berhala-hala yang tak kudus, lalu berinisiatif menyalakan menorah suci. Namun, karena Menorah emas telah dicuri oleh orang Suriah, kaum Makabe kini membuatnya dengan logam yang lebih murah.


Ketika mereka hendak menyalakannya, mereka hanya menemukan sebuah kotak kecil berisi minyak zaitun yang terdapat stempel Imam Besar Yochanan. Sekotak minyak itu hanya cukup untuk penerangan satu hari saja. Namun atas mukjizat Tuhan, api itu terus menyala selama delapan hari, hingga minyak baru tersedia.

Mukjizat itu membuktikan bahwa Tuhan telah kembali membawa umat-Nya di bawah perlindungan-Nya. Untuk mengenang peristiwa itu, umat Yahudi merayakan Hanukkah selama 8 hari.


kemenangan dalam konteks Hanukkah adalah persoalan iman dan keberanian melawan kezaliman, ketika sekelompok orang Yahudi pada saat itu membela hak mereka untuk menjadi orang Yahudi yang benar. Tuhan memudahkan kemenangan meskipun pada saat itu lawan dari kaum Makabe sendiri sangatlah kuat.

Dalam konteks hari ini, peperangan antara anak-anak terang dan melawan anak-anak kegelapan belumlah berakhir, tetapi ironisnya anak-anak gelap itu bukanlah mereka yang dari luar bangsa Yahudi yang kita istilahkan Goyim, namun seringkali bahkan diperlihatkan kepada dunia di hari ini dan mungkin di masa depan, bagaimana umat Yahudi sendiri menjadi anak-anak gelap.


Yang benar saja, menurut banyak rabbi-rabbi Yahudi perihal simbolisasi pertarungan Hanukkah bukanlah antara orang-orang Yahudi dan orang-orang Yunani yang dipersepsikan sebagai orang di luar Yahudi, melainkan antara “orang-orang Yahudi tradisional (lurus)” dan “orang- orang Yahudi Helenistik (yang tidak lurus)”.


Pertikaian yang sama telah terulang lagi dan lagi dalam sejarah kita sebagai orang Yahudi, dan kita juga dapat menyaksikan hal ini hari ini bagaimana orang-orang Yahudi dengan senang hati melepaskan tradisi mereka dan nilai-nilai asli mereka, terjebak dalam lumpur neo-imprealisme dan kolonialisme yang dengan bangganya ditampilkan di depan mata dunia melalui perlakuan tidak berprikemanusiaan terhadap saudara-saudari kita di tanah Palestina.


Padahal Musa dalam dalam sepuluh Perintah Tuhan yang dipanjangkan menjadi 613 larangan dan panduan (mitzvoth) dalam Taurat dan dijabarkan kembali ke dalam Nevi’im dan Ketuvim telah menegaskan untuk setiap orang yahudi menjadi cahaya bagi setiap bangsa atau Or La Goyyim, sebagaimana penegasan dalam Taurat.

Sebab kegelapan akan menutupi bumi, dan awan tebal menutupi bangsa-bangsa; tetapi Hashem akan bersinar kepadamu, dan kemuliaan-Nya akan terlihat atasmu. Dan bangsa-bangsa akan berjalan karena terangmu, dan raja-raja terkena pancaran sinarmu” (Yishayahu 60:2-3).

Dalam konteks konflik yang saat ini terjadi di Jalur Gaza, memang selalu ada penyebab dan akibat, namun berpikir secara biner membuat kita terlepas dari kemanusiaan. Siapa pun pelaku yang menyebabkan tragedi 7 Oktober yang disebut sebagai peristiwa terburuk setelah kematian oleh Nazi, sepatutnya di hukum setimpal.

Namun bukan berarti peristiwa itu kemudian menjadi hilangnya rasa kemanusiaan kepada mereka yang telah lama sengsara akibat blokade yang sebagian besar entitas Yahudi di bawah negara Israel dan pendukungnya setujui. Tentu saja tragedi 7 Oktober tidak terjadi di ruang hampa, ada begitu banyak tragedi yang awalnya disebabkan kebiadaan sebagian umat yahudi sehingga menjadi bom waktu tragedi-tragedi yang merenggut nyawa umat yahudi sendiri.

Andaikan kita berada di Gaza

Ketika saya, sebagai seoranng Yahudi melihat Gaza, saya membayangkan melihat kaum Yahudi sendiri ketika mereka mendekam di kamp konsentrasi. Ketika itu kita merasakan dunia telah meninggalkan kita, membiarkan kita dibantai secara massal.

Ibu yang mengandung, tidak diizinkan untuk melihat tangis anaknya, begitupun janin yang belum merasakan udara dunia. Hari demi hari kita hanya menunggu giliran dimatikan, begitulah kata Elie Wiesel sang novelis tersohor yang selamat dari tragedi perang dunia kedua.


Saya sebagai umat Yahudi yang masih memiliki rasa kemanusiaan selalu mengalami mimpi buruk akan apa yang sudah diperbuat oleh mereka yang mengatasnamakan Yahudi. Saya bermimpi bahwa Bintang Daud tidak dijahit pada pakaian kita, tetapi ditempelkan pada tentara genosida yang mengebom rumah sakit, sekolah, gereja, dan masjid tanpa mempedulikan nyawa yang tidak bersalah.

Para ayah-ayah mereka yang berbaris dengan mata tertutup, kemudian mati ditembak satu persatu tanpa pengadilan. Saya ingat ada pembicaraan tentang Tikkun Olam dan Tzedakah — apakah kemanusiaan kita terkubur di suatu tempat di bawah Yayasan? Apakah ada yang masih bernapas di bawah sana? Saya menjelajahi sisa-sisa bangunan tempat tinggal yang dibom untuk mencari sisa-sisa jiwa Yudaisme.


Kita membangun institusi dan monumen untuk menegaskan bahwa kita “tidak pernah lupa”, tapi lihatlah kita sekarang. Tampaknya kita meninggalkan kemanusiaan kita di luar pintu museum peringatan Holocaust. Kita harus akui, umat Yahudi adalah keajaiban diaspora yang terjebak dalam negara yang penuh kebohongan.

Israel telah mengorbankan kemanusiaan kita di altar nasionalisme yang jauh dari apa yang diperintahkan oleh Ibrahim,Ishak, Yakub, Musa, dan para Nabi kita. Bayangkan tidak ada anestesi di rumah sakit tapi bisakah kamu menahan rasa sakitnya lebih lama lagi, Palestina? Kami ingin membantu, tapi tangan kami sudah berlumuran darah.


Mungkin suatu hari kita akan mengeluarkan buku harian anak-anak Gaza dari reruntuhan dan abu. Kita bersihkan dari sisa selongsong dan bubuk mesiu. Namun Bisakah kita membaca kata-katanya di bawah kertas yang berlumuran darah? Apakah mimpinya mati karena gas fosfor yang dijatuhkan di kepalanya?

Cucu-cucu kita kelak akan bertanya kepada kita tentang genosida di Palestina dan mengapa dunia tidak melakukan intervensi. Apalagi kelak, Tuhan pun akan memberikan keadilan pada mereka yang ditindas meskipun dia tahu yang menindasnya adalah umat yang dipercayakannya sebagaimana yang kita yakini.

Al-Quran pernah bercerita seputar penghukuman tuhan kepada kita begitu pun kitab suci kita sendiri, karena hukuman Tuhan itu adil.

Kembali Pada Or La Goyyim


Untuk menjadi penerang bagi bangsa-bangsa, sudah saatnya Yudaisme memerdekakan dirinya dari Fasisme. “Fasis yang baik adalah fasis yang mati”. Pemimpin Israel saat ini bukanlah barisan orang suci sebagaimana Israel di zaman Daud dan Sulaiman dahulu, karena mereka adalah boneka-boneka Imprealisme dengan negara yang tidak sama sekali menerapkan hukum Yudaisme.


Or La Goyim harus mencerminkan kepedulian terhadap semua manusia tanpa membedakan ras atau jender, termasuk anti terhadap kolonialisme.

Dalam hal ini, ada tiga prinsip yang perlu kita utamakan yaitu pertama, peduli terhadap martabat manusia — “Kevod haberiyot“. Karena beberapa orang menyatakan bahwa ‘Adam’ hanya Merujuk pada orang Yahudi. Penggunaan istilah “beriyot” menunjukkan bahwa istilah tersebut mencakup orang non-Yahudi.

Kedua, mengutamakan perdamaian — “Darchei shalom”, menurut Taurat Tuhan itu adalah zat yang penuh belas kasihan atas semua yang dia ciptakan (Hilkhot Melakhim 8:11). Ketiga, melakukan apa yang lurus dan baik — “Viasita hayashar vihatov“: memperlakukan non-Yahudi dengan adil seperti yang ditunjukkan oleh Avraham dalam mendoakan Sodom.


Pembantaian yang dilakukan di Gaza tentu bertentangan dengan ajaran Yahudi. Ada banyak yang melarang salah satunya ditegaskan dalam Mishnah Sanhedrin bab empat yang menyatakan “Siapa yang membinasakan satu kehidupan, seolah-olah ia menghancurkan seluruh dunia, dan siapa yang menyelamatkan satu kehidupan, dianggap seolah-olah- olah ia menyelamatkan seluruh dunia”.


Taurat mengajari kita bahwa siapa pun yang menghancurkan satu jiwa, dianggap bersalah seolah-olah dia telah menghancurkan seluruh dunia; dan siapa pun yang memelihara satu jiwa, Taurat menganggapnya sebagai pahala seolah-olah dia telah memelihara seluruh dunia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Gelar Kunjungan ke Toko Buku, Kopiah.Co Dorong Mahasiswa Bangun Budaya Baca

KOPIAH.Co — Pusat Studi Islam dan Sukarno, KOPIAH.Co bersama Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Tunisia menggelar 'Maktaba Tour' dengan melakukan...

Artikel Terkait